RESUME
PRAKTIKUM BATIK TULIS GARUTAN “RM” GARUT-JAWA BARAT 20 JANUARI 2014
Batik
merupakan salahsatu kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang sudah
menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia sejak dahulu, khususnya daerah Jawa.
Proses pembuatan batik sudah turun temurun diikuti oleh setiap generasi
meskipun sekarang pembuatan batik sudah tidak hanya secara tradisional ( Btik
tulis ) saja, melainkan menggunakan cara yang lebih canggih yakni dengan
menggunakan mesin ( batik cap ) untuk memperbanyak hasil produksi yang akan
dipasarkan. Walaupun demikian, pembuatan batik dengan cara tradisional masih
terus dilestarikan untuk menjaga keaslian dan kwalitas tersendiri dari batik
yang dihasilkan.
Batik
telah diakui UNESCO dan ditetapkan sebagai Warisan
Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2
Oktober, 2009. Maka dari itu kita patut bangga dan ikut
melestarikan kekayaan bangsa agar tetap lestari dan menjadi salah satu
identitas bangsa Indonesia.
Berdasarkan
hasil kunjungan Praktek Lapangan ke salah satu pabrik batik “RM” yang ada di
Garut – Jawa Barat, tepatnya Jl. Papandayan no. 54 , maka dari itu, dalam
resume kali ini penulis akan memaparkan mengenai cara pembuatan batik, makna di
balik motif garutan, dan upaya pelestaria batik garutan khususnya agar tetap
lestari.
Pabrik
batik yang penulis kunjungi merupakan salah satu home industry yang ada di kota
Garut dan telah berdiri sejak tahun 1979 sejak zaman Belanda. Hal ini bisa
terlihat dari adanya motif – motif batik tertentu seperti Lereng Jaksa. Konon
dahulu ketika zaman Belanda ada seorang jaksa yang memsan motif batik dan terus
menerus motif yang dipesan adalah motif yang sama, maka dinamakanlah motif
Lereng Jaksa. Selain motif – motif yang sudah ada sejak dulu, sekarang motif
batik sudah lebih variatif dengan adanya motif – motif modifikasi.
Meskipun
saat ini motif batik telah bervariasi, namun motif batik yang paling diminati
adalah motif batik tulis asli warna –warna Garut. Selain alasan keaslian, batik
Garutan juga memiliki warna – warna yang khas yang menjadi keunikan tersendiri
dan menjadi pembeda dari batik – batik yang berasal dari daerah lain.
Ada
tiga warna khas yang menjadi cirri batik garutan yakni, ada warna biru, soga,
dan gading. Gading disini warnanya lebih ke warna cream yang lebih dikenal
dengan istilah gadingan. Tiga warna tersebut sudah mewakili warna batik
garutan. Ketika seseorang melihat balutan ketiga warna tersebut, maka sudah
dipastikan batik tersebut adalah batik garutan. Warna soga yang dipakai di batik garutan juga berbeda dengan soga
yang dipakai oleh batik dari daerah lain. Warna soga yang dipakai di batik
garutan lebih bervariatif berbeda dengan soga yang dipakai batik Jawa misalnya.
Kalau warna soga yang dipakai oleh batik jawa hanya berwarna coklat, akan
tetapi warna soga yang digunakan di batik garutan ada bermacam – macam,
misalnya warna merah marun, merah bata atau agak kecoklatan dan juga merah cabe
yang berwarna cerah. Itulah yang menjadikan batik garutan berbeda dan memiliki
keunikan tersendiri dari batik-batik lainnya.
Tentunya
setiap daerah memiliki keunikan dan ke-khasan dalam pembuatan batiknya. Tidak
terkecuali motif batik yang diciptakannya. Batik garutan juga memiliki
motif-motif yang tidak sedikit, kurang lebih ada ratusan motif batik garutan
yang di produksi. Namun motif batik yang paling terkenal dan paling diminati
diantaranya ada motif Bulu Hayam, Merak Ngibing, Lereng Jaksa,
Lereng Doktor, Lereng Siki Bonteng, Pecah Kopi, Lereng Cakra, Seling Bunga,
Lereng Bilik, Carang Ayakan, Kucubung, lereng calung, Batu Ngampar dan
masih banyak motif-motif lainnya yang paling diminati dari batik garutan.
Motif
– motif dari batik garutan tidak terlalu memiliki banyak pilosofi. Penamaan
motif disaamakan dengan bentuk yang digoreskan. Seperti penamaan lereng bilik
misalnya. Gambar dari motif lereng bilik disamakan dengan gambar anyaman dari
bambu yang biasa dipalkai dinding rumah zaman dulu (bilik). Sehingga memudahkan
orang untuk mengingat motif dan namanya karena bentuk dan pemberian nama
disesuaikan.
Dan
juga yang membedakan batik garutan dengan batik lainnya dilihat dari segi
penggunaan. Misalnya kalau di Jawa ada salah satu motif batik yang khusus
digunakan oleh pengantin seperti sidoluhur
dan motif tersebut tidak boleh digunakan oleh sembarang orang karna mungkin
diperuntukan untuk pengantin saja. Di batik garutan juga ada namanya motif sidomukti yang biasa digunakan oleh
pengantin, namun penggunaanya tidak pakem seperti sidoluhur yang ada di Jawa.
Penggunaan motif sidomukti tidak hanya selalu digunakan oleh pengantin saja,
melainkan siapapun bisa juga menggunakannya.
Selain
batik garutan digunakan untuk bahan baku pakaian atau barang lainnya, batik
garutan ini biasanya juga dipesan sebagai koleksi seseorang yang cinta akan
kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi.
Ada
alasan mengapa batik garutan memiliki harga yang fantastis yakni dari proses
pembuatan yang cukup lama yang bisa memakan waktu kurang lebih 2 bulan lamanya
untuk menyelesaikan satu kain saja. Proses pembuatan kain batik sebelum ditulis
dinamakan ketelan. Yakni memproses kain yang asalnya gulungan kita
potong-potong. Biasanya pemotongan untuk kain berukuran 2.70 m. setelah itu
diproses selama satu bulan atau 40 hari dengan mencuci secara tradisional
menggunakan cara tradisional pakai minyak kacang diaduk-aduk ditambahkan dengan
campuran air sapu merah. Itu berfungsi untuk menghaluskan kain agar lebih
halus, membuang getah-getah yang menempel di kain, memperkuat atau memperbagus
dalam proses pewarnaan agar lebih awet. Beda dengan ketelan yang digunakan saat
ini, yang lebih praktis yakni ketelan kimia. Penggunaannya hanya membutuhkan
waktu kurang lebih 3 hari bahkan 2 hari juga bisa. Kalau penggunaan ketelan
alami harus sebulan / 40 hari, terkecuali apabila sudahkekurangan kain untuk
produksi barulah 30 hari kain sudah diangkat. Setelah itu kain di ibunkeun (istilah sunda) atau
diangin-anginkan ketika dini hari, kemudian dibersihkan lalu setelah itu
dijemur dan disetrika baru kain bisa mulai digunakan untuk membatik.
Setelah
proses ketelan proses selanjutnya adalah kain yang masih putih tersebut
diberikan pola di bagian depannya, yang dinamakan ngarengreng. setelah itu pembutan motif dilakukan di bagian
belakang kain dengan mengikuti motif yang tadi digoreskan di bagian depan yang
dinamakan nerusan. Setelah itu ditembok / nembokan, yakni yang tidak
akan dikasih warna maka ditutup malam terlebih
dahulu sebelum proses pewarnaan dan yang akan diberi warna maka dibiarkan.
Selanjutnya proses dinamakan dibiru, yakni
pemberian warna biru sebagai warna dasar. Setelah disesuaikan pemberian warna
biru tersebut, maka proses selanjutnya dinamakan ngalorod / lorodan. Yaitu pelepasan malam dengan cara memasukan
kain tadi kedalam tungku yang berisi air mendidih diangkat dan dimasukan
kembali sampai malam yang menempel dikain tersebut terlepas. Setelah itu kain
dicuci kembali sampai bersih dari malam lalu dijemur sampai kering, disetrika
lalu dilanjutkan menulis lagi.
Setelah
pross diatas, penulisan motif dilanjutkan. Kali ini proses membutuhkan waktu
kurang lebih sampai 7-10 hari untuk satu motif atau satu kain. Tapi untuk motif
yang lebih gampang bisa sekitar 4-5 hari selesai. Selanjutnya warna yang akan
ditutup misalkan tadi yang sudah dikasih warna biru, dititup malam kemudian
dilakukan pemberian warna soga atu gading. stelah selesai, kita kasih lagi
warna soganya baik soga merah atu soga bata. Dan selanjutnya dilakukan cara
yang sama yakni proses lorodan dan seterusnya sampai memakan waktu 2 bulan
kurang lebih.
Upaya
pelestarian batik garutan sendiri diantaranya orang-orang yang membatik atau
pembatiknya tersebut turun temurun. Misalkan pegawai yang sekarang itu dahulu
neneknya pun adalah seorang pembatik, jadi mereka bisa secara otodidak karena
dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya juga. Selain itu untuk seorang pembatik
diperlukan orang yang berjiwa seni, ketekunan, dan keinginan untuk melestarikan
kebudayaan. Hal itulah yang akan menjadikan batik garutan khususnya akan tetap
lestari.
Produk
kain Batik Tulis Garutan RM kini sudah dipasarkan baik di pasar dalam negeri
maupun di pasar mancanegara. Di dalam negeri sendiri, produk batik Garutan
merek RM dipasarkan ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain.
Pada saat libur biasanya banyak juga para pembeli yang sengaja datang dari luar
daerah untuk membeli produk kain Batik Tulis Garutan RM.
Sementara
itu, pemasaran ke luar negeri dilakukan ke berbagai negara seperti Malaisia,
Singapura, China, Mesir, Kanada, Australia, Perancis, Belanda dan sejumlah
Negara negara Timur Tengah, dan masih banyak lagi. Selain itu batik produksi RM
juga sering mengikuti pameran-pameran di dalam ataupun luar negeri. Di dalam
negeri contohnya seperti dalam acara Gelar Batik Nasional, dan lain sebagainya.
Kesimpulan dari hasil kunjungan di
Batik Tulis Garutan “RM” tentang segala hal yang berhubungan dengan proses
pembuatan batik tulis, penulis dapat belajar dan mengetahui kegiatan apa saja
yang terjadi di dalam proses pembuatan batik tulis. Untuk itu kita sebagai
warga Negara Indonesia harus bisa ikut melestarikan budaya bangsa kita agar
tidak direbut oleh Negara lain. Selain itu kita patut bangga atas prestasi yang
dimiliki bangsa kita dengan keunikan keunikan dan ke-khas-san dari batik yang
kita jumpai di setiap daerah. Karena setiap daerah memiliki motif dan keunikan
tersendiri dalam pembuatan batiknya. Jangan sampai kita melupakan keaslian
batik dengan hanya membeli batik-batik yang berasal dari luar yang tidak
memperhatikan keaslian dan tujuan pembuatan batik. Tapi kita harus ikut
berpartisispasi baik dalam melestarikan maupun membeli produk-produk asli dalam
negri. Karena dengan itu hasil dari kebudayaan Bangsa kita akan tetap lestari
sampai kapanpun.
Thanks
to : Rumah Batik Garutan “RM”
Jl. Papandayan no.54 Telp (0262)231028
Fax. 232436 Garut- 44118
Jl. Pasir Salam Asri E1 Telp.
(022)5223271
Fax.(022)5223271 Bandung



Tidak ada komentar:
Posting Komentar