Minggu, 02 Februari 2014

Resume Praktikum Batik Tulis Garutan

RESUME PRAKTIKUM BATIK TULIS GARUTAN “RM” GARUT-JAWA BARAT 20 JANUARI 2014
Batik merupakan salahsatu kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia sejak dahulu, khususnya daerah Jawa. Proses pembuatan batik sudah turun temurun diikuti oleh setiap generasi meskipun sekarang pembuatan batik sudah tidak hanya secara tradisional ( Btik tulis ) saja, melainkan menggunakan cara yang lebih canggih yakni dengan menggunakan mesin ( batik cap ) untuk memperbanyak hasil produksi yang akan dipasarkan. Walaupun demikian, pembuatan batik dengan cara tradisional masih terus dilestarikan untuk menjaga keaslian dan kwalitas tersendiri dari batik yang dihasilkan.
Batik telah diakui  UNESCO dan ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2 Oktober, 2009. Maka dari itu kita patut bangga dan ikut melestarikan kekayaan bangsa agar tetap lestari dan menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia.
Berdasarkan hasil kunjungan Praktek Lapangan ke salah satu pabrik batik “RM” yang ada di Garut – Jawa Barat, tepatnya Jl. Papandayan no. 54 , maka dari itu, dalam resume kali ini penulis akan memaparkan mengenai cara pembuatan batik, makna di balik motif garutan, dan upaya pelestaria batik garutan khususnya agar tetap lestari.
Pabrik batik yang penulis kunjungi merupakan salah satu home industry yang ada di kota Garut dan telah berdiri sejak tahun 1979 sejak zaman Belanda. Hal ini bisa terlihat dari adanya motif – motif batik tertentu seperti Lereng Jaksa. Konon dahulu ketika zaman Belanda ada seorang jaksa yang memsan motif batik dan terus menerus motif yang dipesan adalah motif yang sama, maka dinamakanlah motif Lereng Jaksa. Selain motif – motif yang sudah ada sejak dulu, sekarang motif batik sudah lebih variatif dengan adanya motif – motif modifikasi.
Meskipun saat ini motif batik telah bervariasi, namun motif batik yang paling diminati adalah motif batik tulis asli warna –warna Garut. Selain alasan keaslian, batik Garutan juga memiliki warna – warna yang khas yang menjadi keunikan tersendiri dan menjadi pembeda dari batik – batik yang berasal dari daerah lain.
Ada tiga warna khas yang menjadi cirri batik garutan yakni, ada warna biru, soga, dan gading. Gading disini warnanya lebih ke warna cream yang lebih dikenal dengan istilah gadingan. Tiga warna tersebut sudah mewakili warna batik garutan. Ketika seseorang melihat balutan ketiga warna tersebut, maka sudah dipastikan batik tersebut adalah batik garutan. Warna soga yang dipakai  di batik garutan juga berbeda dengan soga yang dipakai oleh batik dari daerah lain. Warna soga yang dipakai di batik garutan lebih bervariatif berbeda dengan soga yang dipakai batik Jawa misalnya. Kalau warna soga yang dipakai oleh batik jawa hanya berwarna coklat, akan tetapi warna soga yang digunakan di batik garutan ada bermacam – macam, misalnya warna merah marun, merah bata atau agak kecoklatan dan juga merah cabe yang berwarna cerah. Itulah yang menjadikan batik garutan berbeda dan memiliki keunikan tersendiri dari batik-batik lainnya.
Tentunya setiap daerah memiliki keunikan dan ke-khasan dalam pembuatan batiknya. Tidak terkecuali motif batik yang diciptakannya. Batik garutan juga memiliki motif-motif yang tidak sedikit, kurang lebih ada ratusan motif batik garutan yang di produksi. Namun motif batik yang paling terkenal dan paling diminati diantaranya ada motif Bulu Hayam, Merak Ngibing, Lereng Jaksa, Lereng Doktor, Lereng Siki Bonteng, Pecah Kopi, Lereng Cakra, Seling Bunga, Lereng Bilik, Carang Ayakan, Kucubung, lereng calung, Batu Ngampar dan masih banyak motif-motif lainnya yang paling diminati dari batik garutan.
Motif – motif dari batik garutan tidak terlalu memiliki banyak pilosofi. Penamaan motif disaamakan dengan bentuk yang digoreskan. Seperti penamaan lereng bilik misalnya. Gambar dari motif lereng bilik disamakan dengan gambar anyaman dari bambu yang biasa dipalkai dinding rumah zaman dulu (bilik). Sehingga memudahkan orang untuk mengingat motif dan namanya karena bentuk dan pemberian nama disesuaikan.
Dan juga yang membedakan batik garutan dengan batik lainnya dilihat dari segi penggunaan. Misalnya kalau di Jawa ada salah satu motif batik yang khusus digunakan oleh pengantin seperti sidoluhur dan motif tersebut tidak boleh digunakan oleh sembarang orang karna mungkin diperuntukan untuk pengantin saja. Di batik garutan juga ada namanya motif sidomukti yang biasa digunakan oleh pengantin, namun penggunaanya tidak pakem seperti sidoluhur yang ada di Jawa. Penggunaan motif sidomukti tidak hanya selalu digunakan oleh pengantin saja, melainkan siapapun bisa juga menggunakannya.
Selain batik garutan digunakan untuk bahan baku pakaian atau barang lainnya, batik garutan ini biasanya juga dipesan sebagai koleksi seseorang yang cinta akan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi.
Ada alasan mengapa batik garutan memiliki harga yang fantastis yakni dari proses pembuatan yang cukup lama yang bisa memakan waktu kurang lebih 2 bulan lamanya untuk menyelesaikan satu kain saja. Proses pembuatan kain batik sebelum ditulis dinamakan ketelan. Yakni memproses kain yang asalnya gulungan kita potong-potong. Biasanya pemotongan untuk kain berukuran 2.70 m. setelah itu diproses selama satu bulan atau 40 hari dengan mencuci secara tradisional menggunakan cara tradisional pakai minyak kacang diaduk-aduk ditambahkan dengan campuran air sapu merah. Itu berfungsi untuk menghaluskan kain agar lebih halus, membuang getah-getah yang menempel di kain, memperkuat atau memperbagus dalam proses pewarnaan agar lebih awet. Beda dengan ketelan yang digunakan saat ini, yang lebih praktis yakni ketelan kimia. Penggunaannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 hari bahkan 2 hari juga bisa. Kalau penggunaan ketelan alami harus sebulan / 40 hari, terkecuali apabila sudahkekurangan kain untuk produksi barulah 30 hari kain sudah diangkat. Setelah itu kain di ibunkeun (istilah sunda) atau diangin-anginkan ketika dini hari, kemudian dibersihkan lalu setelah itu dijemur dan disetrika baru kain bisa mulai digunakan untuk membatik.
Setelah proses ketelan proses selanjutnya adalah kain yang masih putih tersebut diberikan pola di bagian depannya, yang dinamakan ngarengreng. setelah itu pembutan motif dilakukan di bagian belakang kain dengan mengikuti motif yang tadi digoreskan di bagian depan yang dinamakan nerusan. Setelah itu ditembok / nembokan, yakni yang tidak akan dikasih warna maka ditutup malam terlebih dahulu sebelum proses pewarnaan dan yang akan diberi warna maka dibiarkan. Selanjutnya proses dinamakan dibiru, yakni pemberian warna biru sebagai warna dasar. Setelah disesuaikan pemberian warna biru tersebut, maka proses selanjutnya dinamakan ngalorod / lorodan. Yaitu pelepasan malam dengan cara memasukan kain tadi kedalam tungku yang berisi air mendidih diangkat dan dimasukan kembali sampai malam yang menempel dikain tersebut terlepas. Setelah itu kain dicuci kembali sampai bersih dari malam lalu dijemur sampai kering, disetrika lalu dilanjutkan menulis lagi.
Setelah pross diatas, penulisan motif dilanjutkan. Kali ini proses membutuhkan waktu kurang lebih sampai 7-10 hari untuk satu motif atau satu kain. Tapi untuk motif yang lebih gampang bisa sekitar 4-5 hari selesai. Selanjutnya warna yang akan ditutup misalkan tadi yang sudah dikasih warna biru, dititup malam kemudian dilakukan pemberian warna soga atu gading. stelah selesai, kita kasih lagi warna soganya baik soga merah atu soga bata. Dan selanjutnya dilakukan cara yang sama yakni proses lorodan dan seterusnya sampai memakan waktu 2 bulan kurang lebih.
Upaya pelestarian batik garutan sendiri diantaranya orang-orang yang membatik atau pembatiknya tersebut turun temurun. Misalkan pegawai yang sekarang itu dahulu neneknya pun adalah seorang pembatik, jadi mereka bisa secara otodidak karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya juga. Selain itu untuk seorang pembatik diperlukan orang yang berjiwa seni, ketekunan, dan keinginan untuk melestarikan kebudayaan. Hal itulah yang akan menjadikan batik garutan khususnya akan tetap lestari.
Produk kain Batik Tulis Garutan RM kini sudah dipasarkan baik di pasar dalam negeri maupun di pasar mancanegara. Di dalam negeri sendiri, produk batik Garutan merek RM dipasarkan ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain. Pada saat libur biasanya banyak juga para pembeli yang sengaja datang dari luar daerah untuk membeli produk kain Batik Tulis Garutan RM.
Sementara itu, pemasaran ke luar negeri dilakukan ke berbagai negara seperti Malaisia, Singapura, China, Mesir, Kanada, Australia, Perancis, Belanda dan sejumlah Negara negara Timur Tengah, dan masih banyak lagi. Selain itu batik produksi RM juga sering mengikuti pameran-pameran di dalam ataupun luar negeri. Di dalam negeri contohnya seperti dalam acara Gelar Batik Nasional, dan lain sebagainya.
Kesimpulan dari hasil kunjungan di Batik Tulis Garutan “RM” tentang segala hal yang berhubungan dengan proses pembuatan batik tulis, penulis dapat belajar dan mengetahui kegiatan apa saja yang terjadi di dalam proses pembuatan batik tulis. Untuk itu kita sebagai warga Negara Indonesia harus bisa ikut melestarikan budaya bangsa kita agar tidak direbut oleh Negara lain. Selain itu kita patut bangga atas prestasi yang dimiliki bangsa kita dengan keunikan keunikan dan ke-khas-san dari batik yang kita jumpai di setiap daerah. Karena setiap daerah memiliki motif dan keunikan tersendiri dalam pembuatan batiknya. Jangan sampai kita melupakan keaslian batik dengan hanya membeli batik-batik yang berasal dari luar yang tidak memperhatikan keaslian dan tujuan pembuatan batik. Tapi kita harus ikut berpartisispasi baik dalam melestarikan maupun membeli produk-produk asli dalam negri. Karena dengan itu hasil dari kebudayaan Bangsa kita akan tetap lestari sampai kapanpun.



Thanks to : Rumah Batik Garutan “RM”
                   Jl. Papandayan no.54 Telp (0262)231028
                   Fax. 232436 Garut- 44118

                   Jl. Pasir Salam Asri E1 Telp. (022)5223271

                   Fax.(022)5223271 Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar