Senin, 12 Mei 2014

Cerpen "1"

Dan Satu Lagi …
Sore ini tersa berbeda. Angin yang berhembus terasa tak seperti biasanya. Langit yang terlihat mendung menambah suasana gundah, terlebih peristiwa tujuh tahun lalu kembali hadir dan membuatku tak nyaman. Kadang aku berfikir, andaikan saat-saat mengerikan itu tak pernah terjadi,mungkin semua akan baik-baik saja. Tapi sudahlah, karena semua telah diatur oleh_Nya.
“Naila, sedang apa kau di situ? lekas tutup jendelanya, hari sudah sore, tak baik kau melamun depan jendela seperti itu.”  Suara dari pintu kamar terdengar jelas dan membuatku menetralkan kembali ingatan peristiwa mengerikan itu.
Tanpa menjawab apapun aku segera menutup jendela kamar, dan di saat bersamaan hujan pun terlihat turun lebat.
Namaku Naila Rahma. Aku merupakan anak bungsu dari tiga bersodara. Jadi sangat wajar kalau sifat manjaku kadang tampak berlebihan. Ditambah kedua kakak-ku yang kebetulan laki-laki semua, selalu memanjakan adiknya yang katanya paling cantik. Maklumlah di rumah hanya Aku dan Ibu yang terlihat cantik. Ya memang begitu keadaannya, menjadi anak perempuan satu-satunya selalu menjadi primadona dalam sebuah keluarga. Terlebih katanya dulu Ibu sangat menginginkan kehadiran bayi perempuan. Dan Alhamdulillah, Allah mendengarkan do’a ibuku saat itu.
Keluargaku bisa dibilang merupakan keluarga yang harmonis. Keadaan kami yang bukan berasal dari kalangan orang berada, menjadikan sebuah kekuatan untuk bisa bertahan hidup tanpa harus dikelilingi harta yang berlimpah. Namun keadaan tersebut tak pernah dijadikan alasan untuk tidak saling menghargai satu sama lain. Yahh setidaknya masih ada cinta dan kasih sayang yang mungkin tak semua keluarga memilikinya dengan utuh. Jadi menurutku perbedaan itu indah, karena pasti ada nilai lebih dari setiap perbedaan yang Tuhan berikan pada umatNya.
Tapi sekarang, semuanya berbeda. Tak ada lagi tawa seperti dulu. Tak ada lagi suara merdu Ibu yang senantiasa membelai rambutku saat menjelang tidur. Ayah. Beliaulah sosok yang sampai saat ini aku banggakan. Kak Hasan, Kak Pandu, yang belum pernah tergantikan oleh abang manapun. Semuanya berawal sejak aku masih berada di bangku Sekolah Dasar. Peristiwa yang akhirnya membuatku menjadi sosok perempuan yang apatis, pendiam, dan menjadikan senyuman adalah hal tersulit untuk  ku lakukan. Sehingga banyak orang yang menjauhiku karena hal itu.

***
Sore itu seperti biasa aku menunggu kedatangan Ayah pulang mencari ikan. Namun tak seperti biasanya Ayah belum juga pulang ketika magrib tiba.
“Bu, kenapa Ayah dan kak Pandu belum pulang? Bukankah biasanya Ayah sudah pulang sebelum adzan magrib?” Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Sebentar lagi pasti Ayah pulang, mungkin mengantarkan pesanan ikan dulu. Memangnya ada apa ndo?, tumben kau secemas itu.”
“Engga ko Bu,  hanya saja Ayah janji bawakan aku sesuatu.” Jawabku dengan nada berharap.
“Palingan juga cangkang kerang lagi, iya kan? Kenapa gak cari sendiri Nai,  ngapain repot-repot nyuruh Ayah bawa?” Kak Hasan mulai menggodaku dengan nada yang menyebalkan.
“Tapi kalo Ayah yang bawa kan cangkang kerangnya bagus-bagus, bersih lagi.” Belaku dengan sedikit kesal.
“Bilang saja kau malas, padahalkan pulang sekolah kamu bisa langsung nyari. Hmm…gitu aja ko repot”
“Sudahlah Hasan, gemar sekali kau menggoda adikmu. Mestinya kau bantu adikmu lah, biar tugas membuat kerajinannya cepat selesai.” Saran ibu membuatku merasa menang dari Kak Hasan.
Begitulah cara kami menunjukan perhatian satu sama lain. Meskipun aku sering ribut sama Kak Hasan, tapi setelah itu pasti akur lagi. Maklumlah umurku dengan Kak Hasan tak jauh beda, hanya selisih satu tahun.
Kalau Kak Pandu  sudah terlihat agak dewasa, meskipun umurnya hanya tiga tahun di atas aku. Kalau kak Pandu ada di rumah, dialah yang suka jadi pelerai antara aku dan Kak Hasan. Biasanya untuk mencairkan suasana kami diajak jalan-jalan ke bibir pantai yang letaknya tidak jauh dari rumah. Meskipun rumah kami berada tidak jauh dari pantai, tapi sama sekali Kami tak merasa bosan dengan keadaan pasir yang setiap hari dihempas ombak. Karena mau tak mau aku harus suka dengan suara bising deburan ombak, atupun dengan udara gersang yang mungkin orang enggan untuk bertahan di daerah seperti itu.
Tapi di sinilah rumahku, rumah keluarga kecilku.rumah dengan segala kesederhanaannya. Tempat dimana aku dan kedua kakak-ku lahir dan dibesarkan. Tempat yang dijadikan oleh Ayah sebagai sumber kehidupan.
Ayahku adalah seorang nelayan. Bertahun-tahun beliau menghidupi keluarganya dengan hasil yang didapat dari laut. Walaupun hanya mengandalkan perahu yang di sewakan temannya, tapi Ayah tetap bertahan dengan apa yang bisa ia lakukan. Tanpa rasa malu, ataupun putus asa karena sampai sekarang cita-citanya untuk memiliki perahu sendiri belum juga terlaksana.
Karena kakak sulungku sudah dianggap mampu untuk ikut berlayar, maka setiap Ayah melaut, pasti Kak Pandu selalu ada bersama Ayah kemanapun ia pergi. Jadi tak heran, kalau di rumah hanya aku, Kak Hasan dan Ibulah yang sering menghabiskan waktu bersama.
Tapi meski demikian, dalam satu bulan minimal ada satu hari yang digunakan untuk menghabiskan waktu bersama. Meskipun itu hanya sekedar mengobrol ataupun membawa bekal makanan dan mencari tepi pantai yang nyaman untuk dijadikan tempat istirahat, itu sudah cukup membuat keluargaku merasa bahagia.

***
Tak lama kemudian terdengar ucapan salam dari balik pintu. Itu pastinya Ayah dan Kak Pandu. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung membukakan pintu dan meraih bungkusan kecil di tangan Ayah. Sontak ayah kaget dan tertawa kecil melihat tingkahku itu.
“Tuh kan, Ayah pasti tepati janjinya. Gak kaya Kak Hasan. Huhh..” ucapku sambil melirik Kak Hasan yang tengah sibuk dengan gangsing  buatannya.
Serentak semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkahku yang terkesan menyudutkan Kak Hasan pada saat itu.
Kebahagiaan di malam itu membuatku merasa jadi orang yang paling beruntung, karena memiliki keluarga utuh dengan kasih sayang yang  terus dipupuk di dalamnya. Tapi sekaligus jadi malam terakhir untukku bersama mereka. Andai saja  aku mengetahuinya lebih awal, malam ini akan jadi malam terpanjang seumur hidupku. Namun keadaan berkata lain. Malam itu tak seperti biasanya, aku tidur lebih awal. Yakni setelah menunaikan shalat isya. Entah kenapa kelopak mataku seakan berat untuk terbuka. Tapi satu hal yang membuatku beruntung hingga saat ini, yakni di malam itu aku tidur bersama Ibu, Ayah dan kedua kakak-ku di ruangan yang sama.
“Bu, malam ini kita tidur bareng-bareng yah, tapi sekarang Naila maunya tidur deket Ibu, Naila gak mau tidur di tengah. Ka Hasan suka jail, gangguin Naila tidur.”  Pintaku pada Ibu.
“Ngomong tuh pelan-pelan aja Nai, gak usah kaya reporter gitu. Pusing tau dengernya.” Jawab kak Hasan dengan nada masih mengejek.
“Tuh kan Bu…” belaku dengan sedikit manja.
“Sudah-sudah. Baiklah, malam ini kita tidur bareng-bareng. Kamu tidur saja duluan ya ndo, nanti Ibu nyusul. Ibu masih memanaskan air untuk Ayahmu mandi.”
Akupun lantas pergi ke kamar dan langsung berbaring. Tapi saat itu aku baru pura-pura tidur. Karena masih ingin memastikan kalau mala mini semuanya tidur dalam satu kamar. Meskipun kamar di rumah kami ukurannya kecil, namun kebersamaan yang membuat kami lupa kalau kamarnya sangat pas-pasan.
Kantuk yang dirasakan membuat mataku menyerah untuk sekedar pura-pura tertidur. Aku tertidur sangat lelap hingga di suatu pagi aku mendapati tangan Ibu melingkar di tubuhku yang mungil. Ayah, kak Pandu dan kak Hasan masih terlihat menikmati tidurnya. Melihat itu semua, aku hanya bisa tersenyum bahagia, dan enggan untuk segera beranjak dari pelukan ibu. Sampai akhirnya Ibu membangunkan kami untuk shalat subuh berjamaah.
***
Singkat cerita hari itu adalah hari Minggu. Saat itu Ibu menyuruhku mengantarkan kue pesanan Bibi ke desa sebelah, yang letaknya lumayan jauh dari bibir pantai. Rumah Bibiku itu bisa dibilang tempatnya berupa bukit, tak semua kendaraan bisa masuk ke kampungnya. Namun karena sudah terbiasa, siang itu aku kembali menunggu truk penganngkut kayu yang akan melewati kampung halaman Bibi. Ibu bilang, kalau kemalaman aku boleh bermalam di sana. Dan benar saja, hari itu aku tak mungkin pulang setelah mengantarkan kue.. terpaksa esok pagi aku aharus bolos sekolah juga.
Entah karena pirasat atau kebetulan. Rasanya hari itu aku enggan meninggalkan rumah Bibi. Dan benar saja, peristiwa mengerikan itu dimulai sejak pukul 15.17 petang. Gempa bumi dan gelombang pasang telah memporak porandakan kampung halamanku dengan tanpa ampun. Ayah, Ibu, dan kedua kakak-ku seakan memanggilku dan meminta pertolongan. Saat itu aku memang tak mengerti apa-apa, Bibi memelukku dengan erat, seolah ingin membuatku tenang. Tapi air matanya tak bisa bersabar menunggu untuk dijatuhkan. Akupun ikut menangis, sambil memanggil orang-orang yang ada dalam ingatanku saat itu dengan lirih. Air mata Bibi semakin deras menetes, mungkin karena aku tak henti-hentinya memanggil Ibu.
Keesokan hari, setelah semuanya dianggap aman, Bibi membawaku ke tempat peristiwa itu.  Bagaikan mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Semuanya rata dengan tanah. Aku tak menemukan apa-apa di situ. Tapi aku ingat posisi rumah yang baru kemarin aku tinggalkan. Ayah, Ibu, Kak Pandu, Kak Hasan,  aku berharap menemukan mereka di sana. Tapi kenyataannya peristiwa itu membuatku membisu. Ayah dan Kak Hasan ditemukan tak bernyawa oleh para relawan saat evakuasi. Sedangkan Ibu, Kak Pandu sampai saat ini tak pernah diketahui keberadaannya.
Entah apa yang terjadi setelah itu. Namun ketika aku terbangun, Bibi ada di sampingku. Dia tersenyum berusaha membuatku lupa sejenak pada mimpi buruk yag menimpaku.
Aku sadar Bibi berusaha keras menenangkanku. Tapi kenyataan itu membuatku merasa tersiksa saat aku terbangun. Bayangan malam yang penuh kebahagiaan sekaligus malam terakhirku bersama mereka, seakan kembali dan terus menerus memaksaku untuk menangis. Kali ini Bibi membiarkan aku menghabiskan air mata yang mungkin akan segera mengering.
***

Sejak peristiwa itu, yang aku rasakan dunia di sekelilingku sungguh tak menyenangkan. Sulit untuk bisa tertawa lepas dibandingkan saat aku masih bersama mereka. Kebencianku terhadap ombak mungkin tak seharusnya aku lakukan. Tapi aku tak tau harus membenci siapa atas kepergian orang-orang yang aku sayangi.
Sampai suatu saat, ketika aku merindukan Ibu, ragaku seakan dituntun melihat ombak untuk pertama kallinya setellah aku benar-benar membenci ombak. Awalnya aku merasa ragu. Tapi kaki ini terus melangkah.
Keadaan disana terasa sudah berbeda dibandingkan saat terakhir aku berkunjung. Rumah-rumah para nelayan sudah mulai berjejer rapih. Aku terus berjalan menyusuri pantai dan berharap meemukan tempat yang bisa membuatku tenang dan bertemu Ibu meski hanya dalam hayalku.
Akupun menemukannya. Persis ditempat terakhir kalinya kami menghabiskan waktu bersama di situlah aku merenung.
Aku merasa Ibu saat itu berada di sampingku. Beliau meneteskan air mata melihatku hidup dengan segala kebencian. Benci terhadap ombak, yang seharusnya menjadi pelipur saat aku merindukan mereka. Ibu juga bilang, bersikap baik tidak harus memandang siapa orang yang kita hadapi, karena kehidupan adalah misteri dan kita tak pernah tau siapa yang akan berjasa dalam hidup kita. Dan satu lagi, dengan kita tersenyum pada orang lain ,itu akan membuat orang merasa bahagia. Karena senyuman adalah cara yang paling sederhana untuk membahagiakan orang lain. Ibu kembali tersenyum padaku.
Tapi setelah itu aku tak tau Ibu ada di mana. Seseorang tengah memanggilku dengan lembut.  Dan setelah kuamati ternyata Bibi yang bangunkan aku. Bibi bilang aku tertidur cukup lama di sini.
Entah mengapa saat iu bibirku mulai terasa ringan untuk tersenyum pada Bibi. Jelas terpancar kebahagiaan dari raut wajah orag yang berada di depanku itu. Bibi langsung memeluku dan berkata “Terimakasih Tuhan, Kau kembalikan Naila yang dulu”.
Mendengar kata-kata itu aku mulai meneteskan kembali air mata yag sudah terlalu lama mongering. Aku tau tugasku sekarang, yakni membahagiakan orang satu-satunya yang aku miliki saat ini. Ibu, Ayah, Kak Pandu, Kak Hasan, meski  kini aku tak bersama kalian, tapi kalian akan selalu tetap bersamaku.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar