Dampak Kemiskinan pada Moral
Manusia dan Kehidupannya
Oleh
: Erna Y.Yuningsih
Setelah
menyaksikan film Jamilah dan Sang Presiden yang bertepatan dengan
diperingatinya hari Kartini, banyak sekali hikmah yang dapat diambil. Karena
kedua tokoh tersebut menceritakan “penderitaan” yang dialami wanita dalam hal
mendapatkan kebebasan. Meskipun kedua tokoh tersebut memiliki latar belakang
yang berbeda baik itu lingkungan keluarga ataupun keadaan ekonomi, namun
keduanya sama-sama berjuang untuk mendapatkan hak yang sama sebagai manusia
yakni mendapatkan kebebasan.
Film
ini dimulai dengan narasi dari Jamila yang diperankan Atiqah Hasiholan,
bahwa dia adalah korban perdagangan manusia, diikuti beberapa adegan
kehidupan malamnya yang mewah tetapi tidak membahagiakan. Setelah mendengar
berita bahwa seorang menteri
(Nurdin) telah dibunuh, Jamila menyerahkan diri kepada polisi. Dan tentu saja
menjadi headline di semua pemberitaan nasional, karena meninggalnya Nurdin (mentri) disebabkan oleh ulah seorang
pelacur. Ini mengejutkan Ibrahim, yang menyukai Jamila. Ibrahim berusaha
membebaskan Jamila. Atas perintah presiden, Jamila ditempatkan di suatu lembaga permasyarakatan (LP) di luar kota Jakarta, di sana dia berada di bawah pengawasan
seorang sipir bernama Ria.
Di
LP itu, Ria membaca buku harian Jamila dan mengetahui latar belakangnya.
Ternyata Jamila dijual ibunya kepada mucikari,
yang kemudian menjualnya kepada keluarga kaya. Saat tinggal dengan keluarga
tersebut, Jamila diperkosa oleh ayah angkat dan kakak angkatnya. Sebagai
balasan, Jamila membunuh kakaknya itu lalu melarikan diri. Sementara itu, ibu
angkatnya membunuh suaminya atas perilakunya yang biadab. Jamila menjadi
pekerja di pasar, tetapi sekali lagi harus melarikan diri ketika mengetahui ada
yang hendak meperkosanya. Ketika Jamila mencari tempat untuk berlindung,
ternyata ia terjebak di tempat yang salah yakni berada di kawasan para PSK
mangkal. Dan saat itu tak lama kemudian polisi berdatangan untuk merajia para
PSK. Jamila disangka merupakan seorang pekerja seks komersial (PSK) di tempat itu, dan akhirnya
ditangkap. Setelah dibebaskan, Jamila dibesarkan seorang PSK tua yang baik
hati, bernama Susi yang sebelumnya juga tertangkap dalam razia tersebut.
Sementara
itu, di luar LP sejumlah kelompok menuntut agar Jamila dijatuhi hukuman mati.
Di dalam LP, seorang penjaga merasa kasihan atas nasib Jamila dan berusaha
membantunya. Namun, Jamila mengabaikannya. Ria, biarpun mulai agak bersimpati
kepada Jamila, sempat bertengkar mulut dengannya mengenai pembunuhan Nurdin dan
ini membuat Jamila ditempatkan di sel isolasi.
Beberapa
hari kemudian, Jamila divonis dan dijatuhi hukuman mati, yang akan dilaksanakan
dalam waktu dekat. Ria mengunjungi Jamila di selnya dan menyatakan bahwa dia
berniat menghubungi presiden untuk meminta penangguhan eksekusi. Jamila
menolak, lalu menceritakan pengalamannya mencari adiknya Fatimah yang pada
akhirnya gagal ia temukan.
Sehari
sebelum hukuman mati Jamila dilaksanakan, Ibrahim bertemu dengan Susi, yang
menceritakan hubungan cinta Jamila dengan Nurdin. Jamila mengandung anak Nurdin
dan menyuruh menteri itu bertanggung jawab, tetapi Nurdin malah menghilang,
lalu mempermalukan Jamila di muka umum dan menyatakan bahwa dia hendak menikahi
wanita lain. Ketika mereka berdua bertemu di hotel, Nurdin mengancam Jamila
dengan pistol; untuk membela diri, Jamila mengambil pistol itu dan dalam
keadaan terdesak ia tak sengaja membunuh Nurdin. Setelah kilas balik itu
selesai, terlihat Jamila berjalan menuju tempat eksekusinya. Presiden tidak menghiraukan
permohonan penangguhan dari Ria. Bunyi tembakan pistol pun terdengar, menandakan
berakhirnya kisah jamila. Fakta-fakta mengenai perdagangan anak dan prostitusi
kemudian ditayangkan.
Dalam
film ini, mengisahkan kehidupan seorang Jamila dengan permasalahannya yang
kompleks. Berawal dari kehidupannya yang buruk secara financial menjadikan ia
digandrungi oleh permasalahn-permasalahan sosial lainnya. Film ini juga
menyoroti berbagai lapisan sosial, mulai dari kelas bawah hingga kelas atas.
Penonton diajak untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang umum terjadi di
masyarakat seperti kejahatan, keadilan yang sulit didapat serta kerendahan
moral yang dimiliki
seseorang dari sudut pandang yang lain. Dan dalam film ini ditegaskan pula
bahwa kejahatan serta rusaknya moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat
bukanlah tanggung jawab perseorangan saja. Namun, hal itu merupakan tanggung
jawab semua pihak
Film ini juga mengajarkan pada penontonnya bahwa kita tidak
boleh mennghakimi seseorang sebagai manusia yang jahat sebelum kita tahu apa
yang melatar belakangi orang tersebut melakukan kejahatan. Selain itu, film ini
menunjukkan betapa sulitnya keadilan dimiliki oleh orang-orang kelas bawah
serta mudahnya lembaga peradilan dipengaruhi oleh masa dalam memutus suatu
perkara tanpa penyelidikan yang mendalam, dengan menghadirkan saksi-saksi dan
bukti-bukti lain untuk memperkuat keputusan.
Di akhir film ditayangkan fakta-fakta tentang perdagangan
manusia. Sesuatu yang mungkin sudah menjadi rahasiah umum di tengah-tengah
masyarakat Indonesia yang katanya sudah merdeka. Walaupun cerita Jamila dan
Sang Presiden ini merupakan cerita fiksi dari sebuah drama. Namun, sebagian
dari kisah-kisah yang terdapat di dalamnya itu merupakan fakta yang sering
terjadi di Negara kita.
Film ini menunjukkan betapa kemiskinan sangat mempengaruhi
moral dan hidup seseorang. Hal ini ditunjukan dengan berbagai
permasalahn sosial Jamila yang berawal dari keluarga miskin yang kemudian rela
menjual anaknya demi menyambung hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar