Senin, 12 Mei 2014

Artikel : Jamila dan Sang Presiden

Dampak Kemiskinan pada Moral Manusia dan Kehidupannya
Oleh : Erna Y.Yuningsih
Setelah menyaksikan film Jamilah dan Sang Presiden yang bertepatan dengan diperingatinya hari Kartini, banyak sekali hikmah yang dapat diambil. Karena kedua tokoh tersebut menceritakan “penderitaan” yang dialami wanita dalam hal mendapatkan kebebasan. Meskipun kedua tokoh tersebut memiliki latar belakang yang berbeda baik itu lingkungan keluarga ataupun keadaan ekonomi, namun keduanya sama-sama berjuang untuk mendapatkan hak yang sama sebagai manusia yakni mendapatkan kebebasan.
Film ini dimulai dengan narasi dari Jamila yang diperankan Atiqah Hasiholan, bahwa dia adalah korban perdagangan manusia, diikuti beberapa adegan kehidupan malamnya yang mewah tetapi tidak membahagiakan. Setelah mendengar berita bahwa seorang menteri (Nurdin) telah dibunuh, Jamila menyerahkan diri kepada polisi. Dan tentu saja menjadi headline di semua pemberitaan nasional, karena meninggalnya  Nurdin (mentri) disebabkan oleh ulah seorang pelacur. Ini mengejutkan Ibrahim, yang menyukai Jamila. Ibrahim berusaha membebaskan Jamila. Atas perintah presiden, Jamila ditempatkan di suatu lembaga permasyarakatan (LP) di luar kota Jakarta,   di sana dia berada di bawah pengawasan seorang sipir bernama Ria.
Di LP itu, Ria membaca buku harian Jamila dan mengetahui latar belakangnya. Ternyata Jamila dijual ibunya kepada mucikari, yang kemudian menjualnya kepada keluarga kaya. Saat tinggal dengan keluarga tersebut, Jamila diperkosa oleh ayah angkat dan kakak angkatnya. Sebagai balasan, Jamila membunuh kakaknya itu lalu melarikan diri. Sementara itu, ibu angkatnya membunuh suaminya atas perilakunya yang biadab. Jamila menjadi pekerja di pasar, tetapi sekali lagi harus melarikan diri ketika mengetahui ada yang hendak meperkosanya. Ketika Jamila mencari tempat untuk berlindung, ternyata ia terjebak di tempat yang salah yakni berada di kawasan para PSK mangkal. Dan saat itu tak lama kemudian polisi berdatangan untuk merajia para PSK. Jamila disangka merupakan seorang pekerja seks komersial (PSK) di tempat itu, dan akhirnya ditangkap. Setelah dibebaskan, Jamila dibesarkan seorang PSK tua yang baik hati, bernama Susi yang sebelumnya juga tertangkap dalam razia tersebut.
Sementara itu, di luar LP sejumlah kelompok menuntut agar Jamila dijatuhi hukuman mati. Di dalam LP, seorang penjaga merasa kasihan atas nasib Jamila dan berusaha membantunya. Namun, Jamila mengabaikannya. Ria, biarpun mulai agak bersimpati kepada Jamila, sempat bertengkar mulut dengannya mengenai pembunuhan Nurdin dan ini membuat Jamila ditempatkan di sel isolasi.
Beberapa hari kemudian, Jamila divonis dan dijatuhi hukuman mati, yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Ria mengunjungi Jamila di selnya dan menyatakan bahwa dia berniat menghubungi presiden untuk meminta penangguhan eksekusi. Jamila menolak, lalu menceritakan pengalamannya mencari adiknya Fatimah yang pada akhirnya gagal ia temukan.
Sehari sebelum hukuman mati Jamila dilaksanakan, Ibrahim bertemu dengan Susi, yang menceritakan hubungan cinta Jamila dengan Nurdin. Jamila mengandung anak Nurdin dan menyuruh menteri itu bertanggung jawab, tetapi Nurdin malah menghilang, lalu mempermalukan Jamila di muka umum dan menyatakan bahwa dia hendak menikahi wanita lain. Ketika mereka berdua bertemu di hotel, Nurdin mengancam Jamila dengan pistol; untuk membela diri, Jamila mengambil pistol itu dan dalam keadaan terdesak ia tak sengaja membunuh Nurdin. Setelah kilas balik itu selesai, terlihat Jamila berjalan menuju tempat eksekusinya. Presiden tidak menghiraukan permohonan penangguhan dari Ria. Bunyi tembakan pistol pun terdengar, menandakan berakhirnya kisah jamila. Fakta-fakta mengenai perdagangan anak dan prostitusi kemudian ditayangkan.
Dalam film ini, mengisahkan kehidupan seorang Jamila dengan permasalahannya yang kompleks. Berawal dari kehidupannya yang buruk secara financial menjadikan ia digandrungi oleh permasalahn-permasalahan sosial lainnya. Film ini juga menyoroti berbagai lapisan sosial, mulai dari kelas bawah hingga kelas atas. Penonton diajak untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang umum terjadi di masyarakat seperti kejahatan, keadilan yang sulit didapat serta kerendahan moral yang dimiliki seseorang dari sudut pandang yang lain. Dan dalam film ini ditegaskan pula bahwa kejahatan serta rusaknya moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat bukanlah tanggung jawab perseorangan saja. Namun, hal itu merupakan tanggung jawab semua pihak
Film ini juga mengajarkan pada penontonnya bahwa kita tidak boleh mennghakimi seseorang sebagai manusia yang jahat sebelum kita tahu apa yang melatar belakangi orang tersebut melakukan kejahatan. Selain itu, film ini menunjukkan betapa sulitnya keadilan dimiliki oleh orang-orang kelas bawah serta mudahnya lembaga peradilan dipengaruhi oleh masa dalam memutus suatu perkara tanpa penyelidikan yang mendalam, dengan menghadirkan saksi-saksi dan bukti-bukti lain untuk memperkuat keputusan.
Di akhir film ditayangkan fakta-fakta tentang perdagangan manusia. Sesuatu yang mungkin sudah menjadi rahasiah umum di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang katanya sudah merdeka. Walaupun cerita Jamila dan Sang Presiden ini merupakan cerita fiksi dari sebuah drama. Namun, sebagian dari kisah-kisah yang terdapat di dalamnya itu merupakan fakta yang sering terjadi di Negara kita.
Film ini menunjukkan betapa kemiskinan sangat mempengaruhi moral dan hidup seseorang. Hal ini ditunjukan dengan berbagai permasalahn sosial Jamila yang berawal dari keluarga miskin yang kemudian rela menjual anaknya demi menyambung hidup.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar