Selasa, 20 Mei 2014

Trip Gunung Burangrang

Perosotan di Gunung Burangrang…???
Oleh : Erna Y.Yuningsih
Rencana kali ini merupakan rencana yang paling singkat dibandingkan rencana trip beberapa waktu lalu. Karena kegemaran yang sama dan kekosongan waktu kamipun merencanakan mengadakan trip ke Gunung Burangrang yang lokasinya tak jauh dari tempat kost kami (Kota Bandung). Hanya dengan 2x  menggunakan transportasi angkot kami bisa sampai ke gerbang menuju Pos Komando, dimana merupakan salah satu titik awal pendakian ke Burangrang terdekat dari tempat kami.
Tak seperti biasanya, trip kali ini hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Mungkin karena bertepatan dengan weekend jadi banyak rekan kami yang pulang kampong. Tepatnya hanya 5 orang saja yang fix ikut trip. Dan itupun hanya 4 orang yang bisa ikut pendakian dikarenakan satu rekan kami (Saras) mendadak sakit ketika sampai ke post komando. Jadi mau tak mau trip tetap dilanjutkan dan Saras beristirahat di post sembari menunggu kami.
Trip kali ini hanya diikuti oleh 1 orang laki-laki dan sisanya perempuan. Yakni Kang Lovi sebagai leader, Enji, Eria, Saras dan juga saya sendiri (Erna). Meski demikian kami tetap bersemangat melakukan trip, meskipun ada bebrapa kendala yang dihadapi. Dimulai dari kondisi Saras yang tak memungkinkan ikut pendakian, track yang lumayan melelahkan, dan keterlambatan menuruni lereng gunung. Karena trip kali ini tak ada acara camp, kami berangkat pagi dan turun sekitar pukul !5.00.

(Saya, Kang Lovi, Eria, Enji_Berfose di Tugu puncak Burangrang)

(Eria, Saras, Saya, Enji_menuju pos Komando)
Hari Sabtu 17 Mei 2014 pukul 07.30 tepatnya kami berkumpul di depan salah satu mini market yang ada di Jl. Sersan Bajuri.  Perjalanan dimulai dengan menaiki angkot putih (parompong) sampai pemberhentian terakhir dan dilanjut dengan menaiki angkot kuning yang menuju gapura ke pos komando. Setelah itu kami berjalan kaki sampai pos komando melewati jalan aspal, rumah warga dan juga kebun sayur mayur. Sesampainya di pos, kang Lovi meminta ijin untuk pendakian sekaligus membayar administrasi masing-masing Rp.10.000; dan juga KTP. Di pos juga Saras kami titipkan karena tak bisa ikut pendakian.
Setelah itu kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan melapor ke Pos Komando. Karena Burangrang merupakan salah satu tempat yang dijadikan latian oleh para militer, maka pelaporan pun harus double untuk memenuhi prosedur pendakian.
Entah karena hal apa, awal perjalanan tak begitu menggairahkan ( jangan jorok… :p ). Mungkin karena salah satu rekan kami tak bisa ikut pendakian, maka rasa khawatir pun dirasakan oleh para rekan lainnya termasuk saya. Tapi hal tersebut disiasati dengan menyalakan beberapa lagu penambah semangat (mirip suplemen :D ). Dan dari situ kami mulai menikmati perjalanan dengan jalan yang mulai terasa menantang, kabut mulai turun dan gerimis tak lagi terelakan.
Diperjalanan kami bertemu dengan beberapa pendaki yang menuruni gunung. Melihat mereka turun, saya merasa ingin cepat sampai dan kembali menuruni gunung. Tapi ternyata jalan saya lelet luar biasa, jadi gak bisa secepat ninja hatori mendaki gunung lewati lembahnya (korban film hahaa).
Semakin atas trck mulai terasa melelahkan. Jalanan yang licin dan juga bebatuan yang membuat saya kewalahan, hamper memutuskan harapan untuk bisa sampai ke puncak. Namun semangat dari rekan yang lainnya membuat saya bisa menyelesaikan perjalanan hingga puncak Burangrarang (2050 mdpl).
Sesampainya di puncak, memang tak begitu menakjubkan. Mungkin karena tempatnya yang tak begitu luas dan tak terlalu mempesona (menurut saya). Tapi cukup menantang untuk pemula seperti saya. Logistic mulai dikeluarkan, sayapun bertugas untuk memasak semua makanan yang dibawa tentunya dibantu oleh kang Lovi sebagai chef professional (wkwkk).
Tak selang beberapa lama, hujan mulai turun. Kamipun hanya berlindung di bawah pohon. Tapi untungnya ada pendaki lain yang berbaik hati mengajak kami bergabung di tendanya. Setelah selesai memasak, kamipun ikut bergabung untuk sekedar makan dan berteduh. Dan baru sadar kalau jam telah menunjukan pukul 15.00. padahal target kami untuk turun adalah sekitar jam 14.00 karena takut kemalaman di perjalanan.
Dan benar saja kedaan mulai gelap. Kamipun menyusuri lereng dengan penuh hati-hati. Dan yang membuat saya sedikit shock ketika beberapa track harus ditempuh dengan cara perosotan untuk menuruni lereng. Karena tak memungkinkan bila harus dilewati dengan keadaan normal. Meskipun demikian kami tetap tertawa meski sesekali mengeluh karena lelah yang melanda.
Perjalan kalli ini memang mengesankan, meskipun personil yang hanya berjumlah 4 orang, tapi tak menyurutkan niat kami untuk menyapa alam. Tuhan memang maha segalanya. Dia menciptakan bumi dan segaa isinya dengan penuh keindahan yang patut kita syukuri dan terus menjaganya agar tetap lestari. Terimakasih Tuhan, aku masih diizinkan melihat semuanya. Mata merupakan lensa yang paling sempurna untuk mengabadikan semuanya. Semoga aku masih dapat menyapa alam dengan terus menyusurinya dan tanpa merusaknya. Salam Lestari !!!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar