Perosotan
di Gunung Burangrang…???
Oleh : Erna Y.Yuningsih
Rencana
kali ini merupakan rencana yang paling singkat dibandingkan rencana trip
beberapa waktu lalu. Karena kegemaran yang sama dan kekosongan waktu kamipun
merencanakan mengadakan trip ke Gunung Burangrang yang lokasinya tak jauh dari
tempat kost kami (Kota Bandung). Hanya dengan 2x menggunakan transportasi angkot kami bisa
sampai ke gerbang menuju Pos Komando, dimana merupakan salah satu titik awal
pendakian ke Burangrang terdekat dari tempat kami.
Tak
seperti biasanya, trip kali ini hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Mungkin
karena bertepatan dengan weekend jadi banyak rekan kami yang pulang kampong. Tepatnya
hanya 5 orang saja yang fix ikut trip. Dan itupun hanya 4 orang yang bisa ikut
pendakian dikarenakan satu rekan kami (Saras) mendadak sakit ketika sampai ke
post komando. Jadi mau tak mau trip tetap dilanjutkan dan Saras beristirahat di
post sembari menunggu kami.
Trip
kali ini hanya diikuti oleh 1 orang laki-laki dan sisanya perempuan. Yakni Kang
Lovi sebagai leader, Enji, Eria, Saras dan juga saya sendiri (Erna). Meski demikian
kami tetap bersemangat melakukan trip, meskipun ada bebrapa kendala yang
dihadapi. Dimulai dari kondisi Saras yang tak memungkinkan ikut pendakian,
track yang lumayan melelahkan, dan keterlambatan menuruni lereng gunung. Karena
trip kali ini tak ada acara camp, kami berangkat pagi dan turun sekitar pukul
!5.00.
(Saya, Kang
Lovi, Eria, Enji_Berfose di Tugu puncak Burangrang)
(Eria, Saras, Saya, Enji_menuju pos
Komando)
Hari
Sabtu 17 Mei 2014 pukul 07.30 tepatnya kami berkumpul di depan salah satu mini
market yang ada di Jl. Sersan Bajuri. Perjalanan
dimulai dengan menaiki angkot putih (parompong) sampai pemberhentian terakhir
dan dilanjut dengan menaiki angkot kuning yang menuju gapura ke pos komando. Setelah
itu kami berjalan kaki sampai pos komando melewati jalan aspal, rumah warga dan
juga kebun sayur mayur. Sesampainya di pos, kang Lovi meminta ijin untuk
pendakian sekaligus membayar administrasi masing-masing Rp.10.000; dan juga
KTP. Di pos juga Saras kami titipkan karena tak bisa ikut pendakian.
Setelah
itu kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan melapor ke Pos Komando. Karena
Burangrang merupakan salah satu tempat yang dijadikan latian oleh para militer,
maka pelaporan pun harus double untuk memenuhi prosedur pendakian.
Entah
karena hal apa, awal perjalanan tak begitu menggairahkan ( jangan jorok… :p ). Mungkin
karena salah satu rekan kami tak bisa ikut pendakian, maka rasa khawatir pun
dirasakan oleh para rekan lainnya termasuk saya. Tapi hal tersebut disiasati
dengan menyalakan beberapa lagu penambah semangat (mirip suplemen :D ). Dan dari
situ kami mulai menikmati perjalanan dengan jalan yang mulai terasa menantang,
kabut mulai turun dan gerimis tak lagi terelakan.
Diperjalanan
kami bertemu dengan beberapa pendaki yang menuruni gunung. Melihat mereka
turun, saya merasa ingin cepat sampai dan kembali menuruni gunung. Tapi ternyata
jalan saya lelet luar biasa, jadi gak bisa secepat ninja hatori mendaki gunung
lewati lembahnya (korban film hahaa).
Semakin
atas trck mulai terasa melelahkan. Jalanan yang licin dan juga bebatuan yang
membuat saya kewalahan, hamper memutuskan harapan untuk bisa sampai ke puncak. Namun
semangat dari rekan yang lainnya membuat saya bisa menyelesaikan perjalanan
hingga puncak Burangrarang (2050 mdpl).
Sesampainya
di puncak, memang tak begitu menakjubkan. Mungkin karena tempatnya yang tak
begitu luas dan tak terlalu mempesona (menurut saya). Tapi cukup menantang
untuk pemula seperti saya. Logistic mulai dikeluarkan, sayapun bertugas untuk
memasak semua makanan yang dibawa tentunya dibantu oleh kang Lovi sebagai chef professional
(wkwkk).
Tak
selang beberapa lama, hujan mulai turun. Kamipun hanya berlindung di bawah
pohon. Tapi untungnya ada pendaki lain yang berbaik hati mengajak kami
bergabung di tendanya. Setelah selesai memasak, kamipun ikut bergabung untuk
sekedar makan dan berteduh. Dan baru sadar kalau jam telah menunjukan pukul
15.00. padahal target kami untuk turun adalah sekitar jam 14.00 karena takut
kemalaman di perjalanan.
Dan
benar saja kedaan mulai gelap. Kamipun menyusuri lereng dengan penuh hati-hati.
Dan yang membuat saya sedikit shock ketika beberapa track harus ditempuh dengan
cara perosotan untuk menuruni lereng. Karena tak memungkinkan bila harus
dilewati dengan keadaan normal. Meskipun demikian kami tetap tertawa meski
sesekali mengeluh karena lelah yang melanda.
Perjalan
kalli ini memang mengesankan, meskipun personil yang hanya berjumlah 4 orang,
tapi tak menyurutkan niat kami untuk menyapa alam. Tuhan memang maha segalanya.
Dia menciptakan bumi dan segaa isinya dengan penuh keindahan yang patut kita
syukuri dan terus menjaganya agar tetap lestari. Terimakasih Tuhan, aku masih
diizinkan melihat semuanya. Mata merupakan lensa yang paling sempurna untuk
mengabadikan semuanya. Semoga aku masih dapat menyapa alam dengan terus
menyusurinya dan tanpa merusaknya. Salam Lestari !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar