Selasa, 20 Mei 2014

Trip Gunung Burangrang

Perosotan di Gunung Burangrang…???
Oleh : Erna Y.Yuningsih
Rencana kali ini merupakan rencana yang paling singkat dibandingkan rencana trip beberapa waktu lalu. Karena kegemaran yang sama dan kekosongan waktu kamipun merencanakan mengadakan trip ke Gunung Burangrang yang lokasinya tak jauh dari tempat kost kami (Kota Bandung). Hanya dengan 2x  menggunakan transportasi angkot kami bisa sampai ke gerbang menuju Pos Komando, dimana merupakan salah satu titik awal pendakian ke Burangrang terdekat dari tempat kami.
Tak seperti biasanya, trip kali ini hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Mungkin karena bertepatan dengan weekend jadi banyak rekan kami yang pulang kampong. Tepatnya hanya 5 orang saja yang fix ikut trip. Dan itupun hanya 4 orang yang bisa ikut pendakian dikarenakan satu rekan kami (Saras) mendadak sakit ketika sampai ke post komando. Jadi mau tak mau trip tetap dilanjutkan dan Saras beristirahat di post sembari menunggu kami.
Trip kali ini hanya diikuti oleh 1 orang laki-laki dan sisanya perempuan. Yakni Kang Lovi sebagai leader, Enji, Eria, Saras dan juga saya sendiri (Erna). Meski demikian kami tetap bersemangat melakukan trip, meskipun ada bebrapa kendala yang dihadapi. Dimulai dari kondisi Saras yang tak memungkinkan ikut pendakian, track yang lumayan melelahkan, dan keterlambatan menuruni lereng gunung. Karena trip kali ini tak ada acara camp, kami berangkat pagi dan turun sekitar pukul !5.00.

(Saya, Kang Lovi, Eria, Enji_Berfose di Tugu puncak Burangrang)

(Eria, Saras, Saya, Enji_menuju pos Komando)
Hari Sabtu 17 Mei 2014 pukul 07.30 tepatnya kami berkumpul di depan salah satu mini market yang ada di Jl. Sersan Bajuri.  Perjalanan dimulai dengan menaiki angkot putih (parompong) sampai pemberhentian terakhir dan dilanjut dengan menaiki angkot kuning yang menuju gapura ke pos komando. Setelah itu kami berjalan kaki sampai pos komando melewati jalan aspal, rumah warga dan juga kebun sayur mayur. Sesampainya di pos, kang Lovi meminta ijin untuk pendakian sekaligus membayar administrasi masing-masing Rp.10.000; dan juga KTP. Di pos juga Saras kami titipkan karena tak bisa ikut pendakian.
Setelah itu kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan dengan melapor ke Pos Komando. Karena Burangrang merupakan salah satu tempat yang dijadikan latian oleh para militer, maka pelaporan pun harus double untuk memenuhi prosedur pendakian.
Entah karena hal apa, awal perjalanan tak begitu menggairahkan ( jangan jorok… :p ). Mungkin karena salah satu rekan kami tak bisa ikut pendakian, maka rasa khawatir pun dirasakan oleh para rekan lainnya termasuk saya. Tapi hal tersebut disiasati dengan menyalakan beberapa lagu penambah semangat (mirip suplemen :D ). Dan dari situ kami mulai menikmati perjalanan dengan jalan yang mulai terasa menantang, kabut mulai turun dan gerimis tak lagi terelakan.
Diperjalanan kami bertemu dengan beberapa pendaki yang menuruni gunung. Melihat mereka turun, saya merasa ingin cepat sampai dan kembali menuruni gunung. Tapi ternyata jalan saya lelet luar biasa, jadi gak bisa secepat ninja hatori mendaki gunung lewati lembahnya (korban film hahaa).
Semakin atas trck mulai terasa melelahkan. Jalanan yang licin dan juga bebatuan yang membuat saya kewalahan, hamper memutuskan harapan untuk bisa sampai ke puncak. Namun semangat dari rekan yang lainnya membuat saya bisa menyelesaikan perjalanan hingga puncak Burangrarang (2050 mdpl).
Sesampainya di puncak, memang tak begitu menakjubkan. Mungkin karena tempatnya yang tak begitu luas dan tak terlalu mempesona (menurut saya). Tapi cukup menantang untuk pemula seperti saya. Logistic mulai dikeluarkan, sayapun bertugas untuk memasak semua makanan yang dibawa tentunya dibantu oleh kang Lovi sebagai chef professional (wkwkk).
Tak selang beberapa lama, hujan mulai turun. Kamipun hanya berlindung di bawah pohon. Tapi untungnya ada pendaki lain yang berbaik hati mengajak kami bergabung di tendanya. Setelah selesai memasak, kamipun ikut bergabung untuk sekedar makan dan berteduh. Dan baru sadar kalau jam telah menunjukan pukul 15.00. padahal target kami untuk turun adalah sekitar jam 14.00 karena takut kemalaman di perjalanan.
Dan benar saja kedaan mulai gelap. Kamipun menyusuri lereng dengan penuh hati-hati. Dan yang membuat saya sedikit shock ketika beberapa track harus ditempuh dengan cara perosotan untuk menuruni lereng. Karena tak memungkinkan bila harus dilewati dengan keadaan normal. Meskipun demikian kami tetap tertawa meski sesekali mengeluh karena lelah yang melanda.
Perjalan kalli ini memang mengesankan, meskipun personil yang hanya berjumlah 4 orang, tapi tak menyurutkan niat kami untuk menyapa alam. Tuhan memang maha segalanya. Dia menciptakan bumi dan segaa isinya dengan penuh keindahan yang patut kita syukuri dan terus menjaganya agar tetap lestari. Terimakasih Tuhan, aku masih diizinkan melihat semuanya. Mata merupakan lensa yang paling sempurna untuk mengabadikan semuanya. Semoga aku masih dapat menyapa alam dengan terus menyusurinya dan tanpa merusaknya. Salam Lestari !!!




Senin, 12 Mei 2014

Artikel : Jamila dan Sang Presiden

Dampak Kemiskinan pada Moral Manusia dan Kehidupannya
Oleh : Erna Y.Yuningsih
Setelah menyaksikan film Jamilah dan Sang Presiden yang bertepatan dengan diperingatinya hari Kartini, banyak sekali hikmah yang dapat diambil. Karena kedua tokoh tersebut menceritakan “penderitaan” yang dialami wanita dalam hal mendapatkan kebebasan. Meskipun kedua tokoh tersebut memiliki latar belakang yang berbeda baik itu lingkungan keluarga ataupun keadaan ekonomi, namun keduanya sama-sama berjuang untuk mendapatkan hak yang sama sebagai manusia yakni mendapatkan kebebasan.
Film ini dimulai dengan narasi dari Jamila yang diperankan Atiqah Hasiholan, bahwa dia adalah korban perdagangan manusia, diikuti beberapa adegan kehidupan malamnya yang mewah tetapi tidak membahagiakan. Setelah mendengar berita bahwa seorang menteri (Nurdin) telah dibunuh, Jamila menyerahkan diri kepada polisi. Dan tentu saja menjadi headline di semua pemberitaan nasional, karena meninggalnya  Nurdin (mentri) disebabkan oleh ulah seorang pelacur. Ini mengejutkan Ibrahim, yang menyukai Jamila. Ibrahim berusaha membebaskan Jamila. Atas perintah presiden, Jamila ditempatkan di suatu lembaga permasyarakatan (LP) di luar kota Jakarta,   di sana dia berada di bawah pengawasan seorang sipir bernama Ria.
Di LP itu, Ria membaca buku harian Jamila dan mengetahui latar belakangnya. Ternyata Jamila dijual ibunya kepada mucikari, yang kemudian menjualnya kepada keluarga kaya. Saat tinggal dengan keluarga tersebut, Jamila diperkosa oleh ayah angkat dan kakak angkatnya. Sebagai balasan, Jamila membunuh kakaknya itu lalu melarikan diri. Sementara itu, ibu angkatnya membunuh suaminya atas perilakunya yang biadab. Jamila menjadi pekerja di pasar, tetapi sekali lagi harus melarikan diri ketika mengetahui ada yang hendak meperkosanya. Ketika Jamila mencari tempat untuk berlindung, ternyata ia terjebak di tempat yang salah yakni berada di kawasan para PSK mangkal. Dan saat itu tak lama kemudian polisi berdatangan untuk merajia para PSK. Jamila disangka merupakan seorang pekerja seks komersial (PSK) di tempat itu, dan akhirnya ditangkap. Setelah dibebaskan, Jamila dibesarkan seorang PSK tua yang baik hati, bernama Susi yang sebelumnya juga tertangkap dalam razia tersebut.
Sementara itu, di luar LP sejumlah kelompok menuntut agar Jamila dijatuhi hukuman mati. Di dalam LP, seorang penjaga merasa kasihan atas nasib Jamila dan berusaha membantunya. Namun, Jamila mengabaikannya. Ria, biarpun mulai agak bersimpati kepada Jamila, sempat bertengkar mulut dengannya mengenai pembunuhan Nurdin dan ini membuat Jamila ditempatkan di sel isolasi.
Beberapa hari kemudian, Jamila divonis dan dijatuhi hukuman mati, yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Ria mengunjungi Jamila di selnya dan menyatakan bahwa dia berniat menghubungi presiden untuk meminta penangguhan eksekusi. Jamila menolak, lalu menceritakan pengalamannya mencari adiknya Fatimah yang pada akhirnya gagal ia temukan.
Sehari sebelum hukuman mati Jamila dilaksanakan, Ibrahim bertemu dengan Susi, yang menceritakan hubungan cinta Jamila dengan Nurdin. Jamila mengandung anak Nurdin dan menyuruh menteri itu bertanggung jawab, tetapi Nurdin malah menghilang, lalu mempermalukan Jamila di muka umum dan menyatakan bahwa dia hendak menikahi wanita lain. Ketika mereka berdua bertemu di hotel, Nurdin mengancam Jamila dengan pistol; untuk membela diri, Jamila mengambil pistol itu dan dalam keadaan terdesak ia tak sengaja membunuh Nurdin. Setelah kilas balik itu selesai, terlihat Jamila berjalan menuju tempat eksekusinya. Presiden tidak menghiraukan permohonan penangguhan dari Ria. Bunyi tembakan pistol pun terdengar, menandakan berakhirnya kisah jamila. Fakta-fakta mengenai perdagangan anak dan prostitusi kemudian ditayangkan.
Dalam film ini, mengisahkan kehidupan seorang Jamila dengan permasalahannya yang kompleks. Berawal dari kehidupannya yang buruk secara financial menjadikan ia digandrungi oleh permasalahn-permasalahan sosial lainnya. Film ini juga menyoroti berbagai lapisan sosial, mulai dari kelas bawah hingga kelas atas. Penonton diajak untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang umum terjadi di masyarakat seperti kejahatan, keadilan yang sulit didapat serta kerendahan moral yang dimiliki seseorang dari sudut pandang yang lain. Dan dalam film ini ditegaskan pula bahwa kejahatan serta rusaknya moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat bukanlah tanggung jawab perseorangan saja. Namun, hal itu merupakan tanggung jawab semua pihak
Film ini juga mengajarkan pada penontonnya bahwa kita tidak boleh mennghakimi seseorang sebagai manusia yang jahat sebelum kita tahu apa yang melatar belakangi orang tersebut melakukan kejahatan. Selain itu, film ini menunjukkan betapa sulitnya keadilan dimiliki oleh orang-orang kelas bawah serta mudahnya lembaga peradilan dipengaruhi oleh masa dalam memutus suatu perkara tanpa penyelidikan yang mendalam, dengan menghadirkan saksi-saksi dan bukti-bukti lain untuk memperkuat keputusan.
Di akhir film ditayangkan fakta-fakta tentang perdagangan manusia. Sesuatu yang mungkin sudah menjadi rahasiah umum di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang katanya sudah merdeka. Walaupun cerita Jamila dan Sang Presiden ini merupakan cerita fiksi dari sebuah drama. Namun, sebagian dari kisah-kisah yang terdapat di dalamnya itu merupakan fakta yang sering terjadi di Negara kita.
Film ini menunjukkan betapa kemiskinan sangat mempengaruhi moral dan hidup seseorang. Hal ini ditunjukan dengan berbagai permasalahn sosial Jamila yang berawal dari keluarga miskin yang kemudian rela menjual anaknya demi menyambung hidup.



Cerpen "1"

Dan Satu Lagi …
Sore ini tersa berbeda. Angin yang berhembus terasa tak seperti biasanya. Langit yang terlihat mendung menambah suasana gundah, terlebih peristiwa tujuh tahun lalu kembali hadir dan membuatku tak nyaman. Kadang aku berfikir, andaikan saat-saat mengerikan itu tak pernah terjadi,mungkin semua akan baik-baik saja. Tapi sudahlah, karena semua telah diatur oleh_Nya.
“Naila, sedang apa kau di situ? lekas tutup jendelanya, hari sudah sore, tak baik kau melamun depan jendela seperti itu.”  Suara dari pintu kamar terdengar jelas dan membuatku menetralkan kembali ingatan peristiwa mengerikan itu.
Tanpa menjawab apapun aku segera menutup jendela kamar, dan di saat bersamaan hujan pun terlihat turun lebat.
Namaku Naila Rahma. Aku merupakan anak bungsu dari tiga bersodara. Jadi sangat wajar kalau sifat manjaku kadang tampak berlebihan. Ditambah kedua kakak-ku yang kebetulan laki-laki semua, selalu memanjakan adiknya yang katanya paling cantik. Maklumlah di rumah hanya Aku dan Ibu yang terlihat cantik. Ya memang begitu keadaannya, menjadi anak perempuan satu-satunya selalu menjadi primadona dalam sebuah keluarga. Terlebih katanya dulu Ibu sangat menginginkan kehadiran bayi perempuan. Dan Alhamdulillah, Allah mendengarkan do’a ibuku saat itu.
Keluargaku bisa dibilang merupakan keluarga yang harmonis. Keadaan kami yang bukan berasal dari kalangan orang berada, menjadikan sebuah kekuatan untuk bisa bertahan hidup tanpa harus dikelilingi harta yang berlimpah. Namun keadaan tersebut tak pernah dijadikan alasan untuk tidak saling menghargai satu sama lain. Yahh setidaknya masih ada cinta dan kasih sayang yang mungkin tak semua keluarga memilikinya dengan utuh. Jadi menurutku perbedaan itu indah, karena pasti ada nilai lebih dari setiap perbedaan yang Tuhan berikan pada umatNya.
Tapi sekarang, semuanya berbeda. Tak ada lagi tawa seperti dulu. Tak ada lagi suara merdu Ibu yang senantiasa membelai rambutku saat menjelang tidur. Ayah. Beliaulah sosok yang sampai saat ini aku banggakan. Kak Hasan, Kak Pandu, yang belum pernah tergantikan oleh abang manapun. Semuanya berawal sejak aku masih berada di bangku Sekolah Dasar. Peristiwa yang akhirnya membuatku menjadi sosok perempuan yang apatis, pendiam, dan menjadikan senyuman adalah hal tersulit untuk  ku lakukan. Sehingga banyak orang yang menjauhiku karena hal itu.

***
Sore itu seperti biasa aku menunggu kedatangan Ayah pulang mencari ikan. Namun tak seperti biasanya Ayah belum juga pulang ketika magrib tiba.
“Bu, kenapa Ayah dan kak Pandu belum pulang? Bukankah biasanya Ayah sudah pulang sebelum adzan magrib?” Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Sebentar lagi pasti Ayah pulang, mungkin mengantarkan pesanan ikan dulu. Memangnya ada apa ndo?, tumben kau secemas itu.”
“Engga ko Bu,  hanya saja Ayah janji bawakan aku sesuatu.” Jawabku dengan nada berharap.
“Palingan juga cangkang kerang lagi, iya kan? Kenapa gak cari sendiri Nai,  ngapain repot-repot nyuruh Ayah bawa?” Kak Hasan mulai menggodaku dengan nada yang menyebalkan.
“Tapi kalo Ayah yang bawa kan cangkang kerangnya bagus-bagus, bersih lagi.” Belaku dengan sedikit kesal.
“Bilang saja kau malas, padahalkan pulang sekolah kamu bisa langsung nyari. Hmm…gitu aja ko repot”
“Sudahlah Hasan, gemar sekali kau menggoda adikmu. Mestinya kau bantu adikmu lah, biar tugas membuat kerajinannya cepat selesai.” Saran ibu membuatku merasa menang dari Kak Hasan.
Begitulah cara kami menunjukan perhatian satu sama lain. Meskipun aku sering ribut sama Kak Hasan, tapi setelah itu pasti akur lagi. Maklumlah umurku dengan Kak Hasan tak jauh beda, hanya selisih satu tahun.
Kalau Kak Pandu  sudah terlihat agak dewasa, meskipun umurnya hanya tiga tahun di atas aku. Kalau kak Pandu ada di rumah, dialah yang suka jadi pelerai antara aku dan Kak Hasan. Biasanya untuk mencairkan suasana kami diajak jalan-jalan ke bibir pantai yang letaknya tidak jauh dari rumah. Meskipun rumah kami berada tidak jauh dari pantai, tapi sama sekali Kami tak merasa bosan dengan keadaan pasir yang setiap hari dihempas ombak. Karena mau tak mau aku harus suka dengan suara bising deburan ombak, atupun dengan udara gersang yang mungkin orang enggan untuk bertahan di daerah seperti itu.
Tapi di sinilah rumahku, rumah keluarga kecilku.rumah dengan segala kesederhanaannya. Tempat dimana aku dan kedua kakak-ku lahir dan dibesarkan. Tempat yang dijadikan oleh Ayah sebagai sumber kehidupan.
Ayahku adalah seorang nelayan. Bertahun-tahun beliau menghidupi keluarganya dengan hasil yang didapat dari laut. Walaupun hanya mengandalkan perahu yang di sewakan temannya, tapi Ayah tetap bertahan dengan apa yang bisa ia lakukan. Tanpa rasa malu, ataupun putus asa karena sampai sekarang cita-citanya untuk memiliki perahu sendiri belum juga terlaksana.
Karena kakak sulungku sudah dianggap mampu untuk ikut berlayar, maka setiap Ayah melaut, pasti Kak Pandu selalu ada bersama Ayah kemanapun ia pergi. Jadi tak heran, kalau di rumah hanya aku, Kak Hasan dan Ibulah yang sering menghabiskan waktu bersama.
Tapi meski demikian, dalam satu bulan minimal ada satu hari yang digunakan untuk menghabiskan waktu bersama. Meskipun itu hanya sekedar mengobrol ataupun membawa bekal makanan dan mencari tepi pantai yang nyaman untuk dijadikan tempat istirahat, itu sudah cukup membuat keluargaku merasa bahagia.

***
Tak lama kemudian terdengar ucapan salam dari balik pintu. Itu pastinya Ayah dan Kak Pandu. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung membukakan pintu dan meraih bungkusan kecil di tangan Ayah. Sontak ayah kaget dan tertawa kecil melihat tingkahku itu.
“Tuh kan, Ayah pasti tepati janjinya. Gak kaya Kak Hasan. Huhh..” ucapku sambil melirik Kak Hasan yang tengah sibuk dengan gangsing  buatannya.
Serentak semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkahku yang terkesan menyudutkan Kak Hasan pada saat itu.
Kebahagiaan di malam itu membuatku merasa jadi orang yang paling beruntung, karena memiliki keluarga utuh dengan kasih sayang yang  terus dipupuk di dalamnya. Tapi sekaligus jadi malam terakhir untukku bersama mereka. Andai saja  aku mengetahuinya lebih awal, malam ini akan jadi malam terpanjang seumur hidupku. Namun keadaan berkata lain. Malam itu tak seperti biasanya, aku tidur lebih awal. Yakni setelah menunaikan shalat isya. Entah kenapa kelopak mataku seakan berat untuk terbuka. Tapi satu hal yang membuatku beruntung hingga saat ini, yakni di malam itu aku tidur bersama Ibu, Ayah dan kedua kakak-ku di ruangan yang sama.
“Bu, malam ini kita tidur bareng-bareng yah, tapi sekarang Naila maunya tidur deket Ibu, Naila gak mau tidur di tengah. Ka Hasan suka jail, gangguin Naila tidur.”  Pintaku pada Ibu.
“Ngomong tuh pelan-pelan aja Nai, gak usah kaya reporter gitu. Pusing tau dengernya.” Jawab kak Hasan dengan nada masih mengejek.
“Tuh kan Bu…” belaku dengan sedikit manja.
“Sudah-sudah. Baiklah, malam ini kita tidur bareng-bareng. Kamu tidur saja duluan ya ndo, nanti Ibu nyusul. Ibu masih memanaskan air untuk Ayahmu mandi.”
Akupun lantas pergi ke kamar dan langsung berbaring. Tapi saat itu aku baru pura-pura tidur. Karena masih ingin memastikan kalau mala mini semuanya tidur dalam satu kamar. Meskipun kamar di rumah kami ukurannya kecil, namun kebersamaan yang membuat kami lupa kalau kamarnya sangat pas-pasan.
Kantuk yang dirasakan membuat mataku menyerah untuk sekedar pura-pura tertidur. Aku tertidur sangat lelap hingga di suatu pagi aku mendapati tangan Ibu melingkar di tubuhku yang mungil. Ayah, kak Pandu dan kak Hasan masih terlihat menikmati tidurnya. Melihat itu semua, aku hanya bisa tersenyum bahagia, dan enggan untuk segera beranjak dari pelukan ibu. Sampai akhirnya Ibu membangunkan kami untuk shalat subuh berjamaah.
***
Singkat cerita hari itu adalah hari Minggu. Saat itu Ibu menyuruhku mengantarkan kue pesanan Bibi ke desa sebelah, yang letaknya lumayan jauh dari bibir pantai. Rumah Bibiku itu bisa dibilang tempatnya berupa bukit, tak semua kendaraan bisa masuk ke kampungnya. Namun karena sudah terbiasa, siang itu aku kembali menunggu truk penganngkut kayu yang akan melewati kampung halaman Bibi. Ibu bilang, kalau kemalaman aku boleh bermalam di sana. Dan benar saja, hari itu aku tak mungkin pulang setelah mengantarkan kue.. terpaksa esok pagi aku aharus bolos sekolah juga.
Entah karena pirasat atau kebetulan. Rasanya hari itu aku enggan meninggalkan rumah Bibi. Dan benar saja, peristiwa mengerikan itu dimulai sejak pukul 15.17 petang. Gempa bumi dan gelombang pasang telah memporak porandakan kampung halamanku dengan tanpa ampun. Ayah, Ibu, dan kedua kakak-ku seakan memanggilku dan meminta pertolongan. Saat itu aku memang tak mengerti apa-apa, Bibi memelukku dengan erat, seolah ingin membuatku tenang. Tapi air matanya tak bisa bersabar menunggu untuk dijatuhkan. Akupun ikut menangis, sambil memanggil orang-orang yang ada dalam ingatanku saat itu dengan lirih. Air mata Bibi semakin deras menetes, mungkin karena aku tak henti-hentinya memanggil Ibu.
Keesokan hari, setelah semuanya dianggap aman, Bibi membawaku ke tempat peristiwa itu.  Bagaikan mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Semuanya rata dengan tanah. Aku tak menemukan apa-apa di situ. Tapi aku ingat posisi rumah yang baru kemarin aku tinggalkan. Ayah, Ibu, Kak Pandu, Kak Hasan,  aku berharap menemukan mereka di sana. Tapi kenyataannya peristiwa itu membuatku membisu. Ayah dan Kak Hasan ditemukan tak bernyawa oleh para relawan saat evakuasi. Sedangkan Ibu, Kak Pandu sampai saat ini tak pernah diketahui keberadaannya.
Entah apa yang terjadi setelah itu. Namun ketika aku terbangun, Bibi ada di sampingku. Dia tersenyum berusaha membuatku lupa sejenak pada mimpi buruk yag menimpaku.
Aku sadar Bibi berusaha keras menenangkanku. Tapi kenyataan itu membuatku merasa tersiksa saat aku terbangun. Bayangan malam yang penuh kebahagiaan sekaligus malam terakhirku bersama mereka, seakan kembali dan terus menerus memaksaku untuk menangis. Kali ini Bibi membiarkan aku menghabiskan air mata yang mungkin akan segera mengering.
***

Sejak peristiwa itu, yang aku rasakan dunia di sekelilingku sungguh tak menyenangkan. Sulit untuk bisa tertawa lepas dibandingkan saat aku masih bersama mereka. Kebencianku terhadap ombak mungkin tak seharusnya aku lakukan. Tapi aku tak tau harus membenci siapa atas kepergian orang-orang yang aku sayangi.
Sampai suatu saat, ketika aku merindukan Ibu, ragaku seakan dituntun melihat ombak untuk pertama kallinya setellah aku benar-benar membenci ombak. Awalnya aku merasa ragu. Tapi kaki ini terus melangkah.
Keadaan disana terasa sudah berbeda dibandingkan saat terakhir aku berkunjung. Rumah-rumah para nelayan sudah mulai berjejer rapih. Aku terus berjalan menyusuri pantai dan berharap meemukan tempat yang bisa membuatku tenang dan bertemu Ibu meski hanya dalam hayalku.
Akupun menemukannya. Persis ditempat terakhir kalinya kami menghabiskan waktu bersama di situlah aku merenung.
Aku merasa Ibu saat itu berada di sampingku. Beliau meneteskan air mata melihatku hidup dengan segala kebencian. Benci terhadap ombak, yang seharusnya menjadi pelipur saat aku merindukan mereka. Ibu juga bilang, bersikap baik tidak harus memandang siapa orang yang kita hadapi, karena kehidupan adalah misteri dan kita tak pernah tau siapa yang akan berjasa dalam hidup kita. Dan satu lagi, dengan kita tersenyum pada orang lain ,itu akan membuat orang merasa bahagia. Karena senyuman adalah cara yang paling sederhana untuk membahagiakan orang lain. Ibu kembali tersenyum padaku.
Tapi setelah itu aku tak tau Ibu ada di mana. Seseorang tengah memanggilku dengan lembut.  Dan setelah kuamati ternyata Bibi yang bangunkan aku. Bibi bilang aku tertidur cukup lama di sini.
Entah mengapa saat iu bibirku mulai terasa ringan untuk tersenyum pada Bibi. Jelas terpancar kebahagiaan dari raut wajah orag yang berada di depanku itu. Bibi langsung memeluku dan berkata “Terimakasih Tuhan, Kau kembalikan Naila yang dulu”.
Mendengar kata-kata itu aku mulai meneteskan kembali air mata yag sudah terlalu lama mongering. Aku tau tugasku sekarang, yakni membahagiakan orang satu-satunya yang aku miliki saat ini. Ibu, Ayah, Kak Pandu, Kak Hasan, meski  kini aku tak bersama kalian, tapi kalian akan selalu tetap bersamaku.