Dan Satu Lagi …
Sore
ini tersa berbeda. Angin yang berhembus terasa tak seperti biasanya. Langit
yang terlihat mendung menambah suasana gundah, terlebih peristiwa tujuh tahun
lalu kembali hadir dan membuatku tak nyaman. Kadang aku berfikir, andaikan saat-saat
mengerikan itu tak pernah terjadi,mungkin semua akan baik-baik saja. Tapi
sudahlah, karena semua telah diatur oleh_Nya.
“Naila,
sedang apa kau di situ? lekas tutup jendelanya, hari sudah sore, tak baik kau
melamun depan jendela seperti itu.” Suara
dari pintu kamar terdengar jelas dan membuatku menetralkan kembali ingatan
peristiwa mengerikan itu.
Tanpa
menjawab apapun aku segera menutup jendela kamar, dan di saat bersamaan hujan
pun terlihat turun lebat.
Namaku
Naila Rahma. Aku merupakan anak bungsu dari tiga bersodara. Jadi sangat wajar
kalau sifat manjaku kadang tampak berlebihan. Ditambah kedua kakak-ku yang
kebetulan laki-laki semua, selalu memanjakan adiknya yang katanya paling cantik.
Maklumlah di rumah hanya Aku dan Ibu yang terlihat cantik. Ya memang begitu
keadaannya, menjadi anak perempuan satu-satunya selalu menjadi primadona dalam
sebuah keluarga. Terlebih katanya dulu Ibu sangat menginginkan kehadiran bayi
perempuan. Dan Alhamdulillah, Allah mendengarkan do’a ibuku saat itu.
Keluargaku
bisa dibilang merupakan keluarga yang harmonis. Keadaan kami yang bukan berasal
dari kalangan orang berada, menjadikan sebuah kekuatan untuk bisa bertahan
hidup tanpa harus dikelilingi harta yang berlimpah. Namun keadaan tersebut tak
pernah dijadikan alasan untuk tidak saling menghargai satu sama lain. Yahh
setidaknya masih ada cinta dan kasih sayang yang mungkin tak semua keluarga
memilikinya dengan utuh. Jadi menurutku perbedaan itu indah, karena pasti ada
nilai lebih dari setiap perbedaan yang Tuhan berikan pada umatNya.
Tapi
sekarang, semuanya berbeda. Tak ada lagi tawa seperti dulu. Tak ada lagi suara
merdu Ibu yang senantiasa membelai rambutku saat menjelang tidur. Ayah.
Beliaulah sosok yang sampai saat ini aku banggakan. Kak Hasan, Kak Pandu, yang
belum pernah tergantikan oleh abang manapun. Semuanya berawal sejak aku masih
berada di bangku Sekolah Dasar. Peristiwa yang akhirnya membuatku menjadi sosok
perempuan yang apatis, pendiam, dan menjadikan senyuman adalah hal tersulit
untuk ku lakukan. Sehingga banyak orang
yang menjauhiku karena hal itu.
***
Sore
itu seperti biasa aku menunggu kedatangan Ayah pulang mencari ikan. Namun tak
seperti biasanya Ayah belum juga pulang ketika magrib tiba.
“Bu,
kenapa Ayah dan kak Pandu belum pulang? Bukankah biasanya Ayah sudah pulang
sebelum adzan magrib?” Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Sebentar
lagi pasti Ayah pulang, mungkin mengantarkan pesanan ikan dulu. Memangnya ada
apa ndo?, tumben kau secemas itu.”
“Engga
ko Bu, hanya saja Ayah janji bawakan aku
sesuatu.” Jawabku dengan nada berharap.
“Palingan
juga cangkang kerang lagi, iya kan? Kenapa gak cari sendiri Nai, ngapain repot-repot nyuruh Ayah bawa?” Kak
Hasan mulai menggodaku dengan nada yang menyebalkan.
“Tapi
kalo Ayah yang bawa kan cangkang kerangnya bagus-bagus, bersih lagi.” Belaku
dengan sedikit kesal.
“Bilang
saja kau malas, padahalkan pulang sekolah kamu bisa langsung nyari. Hmm…gitu
aja ko repot”
“Sudahlah
Hasan, gemar sekali kau menggoda adikmu. Mestinya kau bantu adikmu lah, biar
tugas membuat kerajinannya cepat selesai.” Saran ibu membuatku merasa menang
dari Kak Hasan.
Begitulah
cara kami menunjukan perhatian satu sama lain. Meskipun aku sering ribut sama
Kak Hasan, tapi setelah itu pasti akur lagi. Maklumlah umurku dengan Kak Hasan
tak jauh beda, hanya selisih satu tahun.
Kalau
Kak Pandu sudah terlihat agak dewasa,
meskipun umurnya hanya tiga tahun di atas aku. Kalau kak Pandu ada di rumah,
dialah yang suka jadi pelerai antara aku dan Kak Hasan. Biasanya untuk
mencairkan suasana kami diajak jalan-jalan ke bibir pantai yang letaknya tidak
jauh dari rumah. Meskipun rumah kami berada tidak jauh dari pantai, tapi sama
sekali Kami tak merasa bosan dengan keadaan pasir yang setiap hari dihempas
ombak. Karena mau tak mau aku harus suka dengan suara bising deburan ombak,
atupun dengan udara gersang yang mungkin orang enggan untuk bertahan di daerah
seperti itu.
Tapi
di sinilah rumahku, rumah keluarga kecilku.rumah dengan segala
kesederhanaannya. Tempat dimana aku dan kedua kakak-ku lahir dan dibesarkan.
Tempat yang dijadikan oleh Ayah sebagai sumber kehidupan.
Ayahku
adalah seorang nelayan. Bertahun-tahun beliau menghidupi keluarganya dengan
hasil yang didapat dari laut. Walaupun hanya mengandalkan perahu yang di
sewakan temannya, tapi Ayah tetap bertahan dengan apa yang bisa ia lakukan.
Tanpa rasa malu, ataupun putus asa karena sampai sekarang cita-citanya untuk
memiliki perahu sendiri belum juga terlaksana.
Karena
kakak sulungku sudah dianggap mampu untuk ikut berlayar, maka setiap Ayah
melaut, pasti Kak Pandu selalu ada bersama Ayah kemanapun ia pergi. Jadi tak
heran, kalau di rumah hanya aku, Kak Hasan dan Ibulah yang sering menghabiskan
waktu bersama.
Tapi
meski demikian, dalam satu bulan minimal ada satu hari yang digunakan untuk menghabiskan
waktu bersama. Meskipun itu hanya sekedar mengobrol ataupun membawa bekal
makanan dan mencari tepi pantai yang nyaman untuk dijadikan tempat istirahat,
itu sudah cukup membuat keluargaku merasa bahagia.
***
Tak
lama kemudian terdengar ucapan salam dari balik pintu. Itu pastinya Ayah dan
Kak Pandu. Tanpa berfikir panjang, akupun langsung membukakan pintu dan meraih
bungkusan kecil di tangan Ayah. Sontak ayah kaget dan tertawa kecil melihat
tingkahku itu.
“Tuh
kan, Ayah pasti tepati janjinya. Gak kaya Kak Hasan. Huhh..” ucapku sambil
melirik Kak Hasan yang tengah sibuk dengan gangsing buatannya.
Serentak
semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkahku yang terkesan
menyudutkan Kak Hasan pada saat itu.
Kebahagiaan
di malam itu membuatku merasa jadi orang yang paling beruntung, karena memiliki
keluarga utuh dengan kasih sayang yang
terus dipupuk di dalamnya. Tapi sekaligus jadi malam terakhir untukku
bersama mereka. Andai saja aku
mengetahuinya lebih awal, malam ini akan jadi malam terpanjang seumur hidupku.
Namun keadaan berkata lain. Malam itu tak seperti biasanya, aku tidur lebih
awal. Yakni setelah menunaikan shalat isya. Entah kenapa kelopak mataku seakan
berat untuk terbuka. Tapi satu hal yang membuatku beruntung hingga saat ini,
yakni di malam itu aku tidur bersama Ibu, Ayah dan kedua kakak-ku di ruangan
yang sama.
“Bu,
malam ini kita tidur bareng-bareng yah, tapi sekarang Naila maunya tidur deket
Ibu, Naila gak mau tidur di tengah. Ka Hasan suka jail, gangguin Naila
tidur.” Pintaku pada Ibu.
“Ngomong
tuh pelan-pelan aja Nai, gak usah kaya reporter
gitu. Pusing tau dengernya.” Jawab kak Hasan dengan nada masih mengejek.
“Tuh
kan Bu…” belaku dengan sedikit manja.
“Sudah-sudah.
Baiklah, malam ini kita tidur bareng-bareng. Kamu tidur saja duluan ya ndo, nanti Ibu nyusul. Ibu masih
memanaskan air untuk Ayahmu mandi.”
Akupun
lantas pergi ke kamar dan langsung berbaring. Tapi saat itu aku baru pura-pura
tidur. Karena masih ingin memastikan kalau mala mini semuanya tidur dalam satu
kamar. Meskipun kamar di rumah kami ukurannya kecil, namun kebersamaan yang
membuat kami lupa kalau kamarnya sangat pas-pasan.
Kantuk
yang dirasakan membuat mataku menyerah untuk sekedar pura-pura tertidur. Aku
tertidur sangat lelap hingga di suatu pagi aku mendapati tangan Ibu melingkar
di tubuhku yang mungil. Ayah, kak Pandu dan kak Hasan masih terlihat menikmati
tidurnya. Melihat itu semua, aku hanya bisa tersenyum bahagia, dan enggan untuk
segera beranjak dari pelukan ibu. Sampai akhirnya Ibu membangunkan kami untuk
shalat subuh berjamaah.
***
Singkat
cerita hari itu adalah hari Minggu. Saat itu Ibu menyuruhku mengantarkan kue
pesanan Bibi ke desa sebelah, yang letaknya lumayan jauh dari bibir pantai.
Rumah Bibiku itu bisa dibilang tempatnya berupa bukit, tak semua kendaraan bisa
masuk ke kampungnya. Namun karena sudah terbiasa, siang itu aku kembali menunggu
truk penganngkut kayu yang akan melewati kampung halaman Bibi. Ibu bilang,
kalau kemalaman aku boleh bermalam di sana. Dan benar saja, hari itu aku tak
mungkin pulang setelah mengantarkan kue.. terpaksa esok pagi aku aharus bolos
sekolah juga.
Entah
karena pirasat atau kebetulan. Rasanya hari itu aku enggan meninggalkan rumah
Bibi. Dan benar saja, peristiwa mengerikan itu dimulai sejak pukul 15.17
petang. Gempa bumi dan gelombang pasang telah memporak porandakan kampung
halamanku dengan tanpa ampun. Ayah, Ibu, dan kedua kakak-ku seakan memanggilku
dan meminta pertolongan. Saat itu aku memang tak mengerti apa-apa, Bibi
memelukku dengan erat, seolah ingin membuatku tenang. Tapi air matanya tak bisa
bersabar menunggu untuk dijatuhkan. Akupun ikut menangis, sambil memanggil
orang-orang yang ada dalam ingatanku saat itu dengan lirih. Air mata Bibi
semakin deras menetes, mungkin karena aku tak henti-hentinya memanggil Ibu.
Keesokan
hari, setelah semuanya dianggap aman, Bibi membawaku ke tempat peristiwa
itu. Bagaikan mimpi buruk yang tak
pernah terbayangkan sebelumnya. Semuanya rata dengan tanah. Aku tak menemukan
apa-apa di situ. Tapi aku ingat posisi rumah yang baru kemarin aku tinggalkan.
Ayah, Ibu, Kak Pandu, Kak Hasan, aku
berharap menemukan mereka di sana. Tapi kenyataannya peristiwa itu membuatku membisu.
Ayah dan Kak Hasan ditemukan tak bernyawa oleh para relawan saat evakuasi.
Sedangkan Ibu, Kak Pandu sampai saat ini tak pernah diketahui keberadaannya.
Entah
apa yang terjadi setelah itu. Namun ketika aku terbangun, Bibi ada di sampingku.
Dia tersenyum berusaha membuatku lupa sejenak pada mimpi buruk yag menimpaku.
Aku
sadar Bibi berusaha keras menenangkanku. Tapi kenyataan itu membuatku merasa
tersiksa saat aku terbangun. Bayangan malam yang penuh kebahagiaan sekaligus
malam terakhirku bersama mereka, seakan kembali dan terus menerus memaksaku
untuk menangis. Kali ini Bibi membiarkan aku menghabiskan air mata yang mungkin
akan segera mengering.
***
Sejak
peristiwa itu, yang aku rasakan dunia di sekelilingku sungguh tak menyenangkan.
Sulit untuk bisa tertawa lepas dibandingkan saat aku masih bersama mereka.
Kebencianku terhadap ombak mungkin tak seharusnya aku lakukan. Tapi aku tak tau
harus membenci siapa atas kepergian orang-orang yang aku sayangi.
Sampai
suatu saat, ketika aku merindukan Ibu, ragaku seakan dituntun melihat ombak
untuk pertama kallinya setellah aku benar-benar membenci ombak. Awalnya aku
merasa ragu. Tapi kaki ini terus melangkah.
Keadaan
disana terasa sudah berbeda dibandingkan saat terakhir aku berkunjung.
Rumah-rumah para nelayan sudah mulai berjejer rapih. Aku terus berjalan
menyusuri pantai dan berharap meemukan tempat yang bisa membuatku tenang dan
bertemu Ibu meski hanya dalam hayalku.
Akupun
menemukannya. Persis ditempat terakhir kalinya kami menghabiskan waktu bersama
di situlah aku merenung.
Aku
merasa Ibu saat itu berada di sampingku. Beliau meneteskan air mata melihatku
hidup dengan segala kebencian. Benci terhadap ombak, yang seharusnya menjadi
pelipur saat aku merindukan mereka. Ibu juga bilang, bersikap baik tidak harus
memandang siapa orang yang kita hadapi, karena kehidupan adalah misteri dan
kita tak pernah tau siapa yang akan berjasa dalam hidup kita. Dan satu lagi,
dengan kita tersenyum pada orang lain ,itu akan membuat orang merasa bahagia.
Karena senyuman adalah cara yang paling sederhana untuk membahagiakan orang
lain. Ibu kembali tersenyum padaku.
Tapi
setelah itu aku tak tau Ibu ada di mana. Seseorang tengah memanggilku dengan
lembut. Dan setelah kuamati ternyata
Bibi yang bangunkan aku. Bibi bilang aku tertidur cukup lama di sini.
Entah
mengapa saat iu bibirku mulai terasa ringan untuk tersenyum pada Bibi. Jelas
terpancar kebahagiaan dari raut wajah orag yang berada di depanku itu. Bibi
langsung memeluku dan berkata “Terimakasih Tuhan, Kau kembalikan Naila yang
dulu”.
Mendengar
kata-kata itu aku mulai meneteskan kembali air mata yag sudah terlalu lama
mongering. Aku tau tugasku sekarang, yakni membahagiakan orang satu-satunya
yang aku miliki saat ini. Ibu, Ayah, Kak Pandu, Kak Hasan, meski kini aku tak bersama kalian, tapi kalian akan
selalu tetap bersamaku.