Minggu, 02 Februari 2014

Resume Praktikum Batik Tulis Garutan

RESUME PRAKTIKUM BATIK TULIS GARUTAN “RM” GARUT-JAWA BARAT 20 JANUARI 2014
Batik merupakan salahsatu kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia sejak dahulu, khususnya daerah Jawa. Proses pembuatan batik sudah turun temurun diikuti oleh setiap generasi meskipun sekarang pembuatan batik sudah tidak hanya secara tradisional ( Btik tulis ) saja, melainkan menggunakan cara yang lebih canggih yakni dengan menggunakan mesin ( batik cap ) untuk memperbanyak hasil produksi yang akan dipasarkan. Walaupun demikian, pembuatan batik dengan cara tradisional masih terus dilestarikan untuk menjaga keaslian dan kwalitas tersendiri dari batik yang dihasilkan.
Batik telah diakui  UNESCO dan ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2 Oktober, 2009. Maka dari itu kita patut bangga dan ikut melestarikan kekayaan bangsa agar tetap lestari dan menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia.
Berdasarkan hasil kunjungan Praktek Lapangan ke salah satu pabrik batik “RM” yang ada di Garut – Jawa Barat, tepatnya Jl. Papandayan no. 54 , maka dari itu, dalam resume kali ini penulis akan memaparkan mengenai cara pembuatan batik, makna di balik motif garutan, dan upaya pelestaria batik garutan khususnya agar tetap lestari.
Pabrik batik yang penulis kunjungi merupakan salah satu home industry yang ada di kota Garut dan telah berdiri sejak tahun 1979 sejak zaman Belanda. Hal ini bisa terlihat dari adanya motif – motif batik tertentu seperti Lereng Jaksa. Konon dahulu ketika zaman Belanda ada seorang jaksa yang memsan motif batik dan terus menerus motif yang dipesan adalah motif yang sama, maka dinamakanlah motif Lereng Jaksa. Selain motif – motif yang sudah ada sejak dulu, sekarang motif batik sudah lebih variatif dengan adanya motif – motif modifikasi.
Meskipun saat ini motif batik telah bervariasi, namun motif batik yang paling diminati adalah motif batik tulis asli warna –warna Garut. Selain alasan keaslian, batik Garutan juga memiliki warna – warna yang khas yang menjadi keunikan tersendiri dan menjadi pembeda dari batik – batik yang berasal dari daerah lain.
Ada tiga warna khas yang menjadi cirri batik garutan yakni, ada warna biru, soga, dan gading. Gading disini warnanya lebih ke warna cream yang lebih dikenal dengan istilah gadingan. Tiga warna tersebut sudah mewakili warna batik garutan. Ketika seseorang melihat balutan ketiga warna tersebut, maka sudah dipastikan batik tersebut adalah batik garutan. Warna soga yang dipakai  di batik garutan juga berbeda dengan soga yang dipakai oleh batik dari daerah lain. Warna soga yang dipakai di batik garutan lebih bervariatif berbeda dengan soga yang dipakai batik Jawa misalnya. Kalau warna soga yang dipakai oleh batik jawa hanya berwarna coklat, akan tetapi warna soga yang digunakan di batik garutan ada bermacam – macam, misalnya warna merah marun, merah bata atau agak kecoklatan dan juga merah cabe yang berwarna cerah. Itulah yang menjadikan batik garutan berbeda dan memiliki keunikan tersendiri dari batik-batik lainnya.
Tentunya setiap daerah memiliki keunikan dan ke-khasan dalam pembuatan batiknya. Tidak terkecuali motif batik yang diciptakannya. Batik garutan juga memiliki motif-motif yang tidak sedikit, kurang lebih ada ratusan motif batik garutan yang di produksi. Namun motif batik yang paling terkenal dan paling diminati diantaranya ada motif Bulu Hayam, Merak Ngibing, Lereng Jaksa, Lereng Doktor, Lereng Siki Bonteng, Pecah Kopi, Lereng Cakra, Seling Bunga, Lereng Bilik, Carang Ayakan, Kucubung, lereng calung, Batu Ngampar dan masih banyak motif-motif lainnya yang paling diminati dari batik garutan.
Motif – motif dari batik garutan tidak terlalu memiliki banyak pilosofi. Penamaan motif disaamakan dengan bentuk yang digoreskan. Seperti penamaan lereng bilik misalnya. Gambar dari motif lereng bilik disamakan dengan gambar anyaman dari bambu yang biasa dipalkai dinding rumah zaman dulu (bilik). Sehingga memudahkan orang untuk mengingat motif dan namanya karena bentuk dan pemberian nama disesuaikan.
Dan juga yang membedakan batik garutan dengan batik lainnya dilihat dari segi penggunaan. Misalnya kalau di Jawa ada salah satu motif batik yang khusus digunakan oleh pengantin seperti sidoluhur dan motif tersebut tidak boleh digunakan oleh sembarang orang karna mungkin diperuntukan untuk pengantin saja. Di batik garutan juga ada namanya motif sidomukti yang biasa digunakan oleh pengantin, namun penggunaanya tidak pakem seperti sidoluhur yang ada di Jawa. Penggunaan motif sidomukti tidak hanya selalu digunakan oleh pengantin saja, melainkan siapapun bisa juga menggunakannya.
Selain batik garutan digunakan untuk bahan baku pakaian atau barang lainnya, batik garutan ini biasanya juga dipesan sebagai koleksi seseorang yang cinta akan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi.
Ada alasan mengapa batik garutan memiliki harga yang fantastis yakni dari proses pembuatan yang cukup lama yang bisa memakan waktu kurang lebih 2 bulan lamanya untuk menyelesaikan satu kain saja. Proses pembuatan kain batik sebelum ditulis dinamakan ketelan. Yakni memproses kain yang asalnya gulungan kita potong-potong. Biasanya pemotongan untuk kain berukuran 2.70 m. setelah itu diproses selama satu bulan atau 40 hari dengan mencuci secara tradisional menggunakan cara tradisional pakai minyak kacang diaduk-aduk ditambahkan dengan campuran air sapu merah. Itu berfungsi untuk menghaluskan kain agar lebih halus, membuang getah-getah yang menempel di kain, memperkuat atau memperbagus dalam proses pewarnaan agar lebih awet. Beda dengan ketelan yang digunakan saat ini, yang lebih praktis yakni ketelan kimia. Penggunaannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 hari bahkan 2 hari juga bisa. Kalau penggunaan ketelan alami harus sebulan / 40 hari, terkecuali apabila sudahkekurangan kain untuk produksi barulah 30 hari kain sudah diangkat. Setelah itu kain di ibunkeun (istilah sunda) atau diangin-anginkan ketika dini hari, kemudian dibersihkan lalu setelah itu dijemur dan disetrika baru kain bisa mulai digunakan untuk membatik.
Setelah proses ketelan proses selanjutnya adalah kain yang masih putih tersebut diberikan pola di bagian depannya, yang dinamakan ngarengreng. setelah itu pembutan motif dilakukan di bagian belakang kain dengan mengikuti motif yang tadi digoreskan di bagian depan yang dinamakan nerusan. Setelah itu ditembok / nembokan, yakni yang tidak akan dikasih warna maka ditutup malam terlebih dahulu sebelum proses pewarnaan dan yang akan diberi warna maka dibiarkan. Selanjutnya proses dinamakan dibiru, yakni pemberian warna biru sebagai warna dasar. Setelah disesuaikan pemberian warna biru tersebut, maka proses selanjutnya dinamakan ngalorod / lorodan. Yaitu pelepasan malam dengan cara memasukan kain tadi kedalam tungku yang berisi air mendidih diangkat dan dimasukan kembali sampai malam yang menempel dikain tersebut terlepas. Setelah itu kain dicuci kembali sampai bersih dari malam lalu dijemur sampai kering, disetrika lalu dilanjutkan menulis lagi.
Setelah pross diatas, penulisan motif dilanjutkan. Kali ini proses membutuhkan waktu kurang lebih sampai 7-10 hari untuk satu motif atau satu kain. Tapi untuk motif yang lebih gampang bisa sekitar 4-5 hari selesai. Selanjutnya warna yang akan ditutup misalkan tadi yang sudah dikasih warna biru, dititup malam kemudian dilakukan pemberian warna soga atu gading. stelah selesai, kita kasih lagi warna soganya baik soga merah atu soga bata. Dan selanjutnya dilakukan cara yang sama yakni proses lorodan dan seterusnya sampai memakan waktu 2 bulan kurang lebih.
Upaya pelestarian batik garutan sendiri diantaranya orang-orang yang membatik atau pembatiknya tersebut turun temurun. Misalkan pegawai yang sekarang itu dahulu neneknya pun adalah seorang pembatik, jadi mereka bisa secara otodidak karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya juga. Selain itu untuk seorang pembatik diperlukan orang yang berjiwa seni, ketekunan, dan keinginan untuk melestarikan kebudayaan. Hal itulah yang akan menjadikan batik garutan khususnya akan tetap lestari.
Produk kain Batik Tulis Garutan RM kini sudah dipasarkan baik di pasar dalam negeri maupun di pasar mancanegara. Di dalam negeri sendiri, produk batik Garutan merek RM dipasarkan ke sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain. Pada saat libur biasanya banyak juga para pembeli yang sengaja datang dari luar daerah untuk membeli produk kain Batik Tulis Garutan RM.
Sementara itu, pemasaran ke luar negeri dilakukan ke berbagai negara seperti Malaisia, Singapura, China, Mesir, Kanada, Australia, Perancis, Belanda dan sejumlah Negara negara Timur Tengah, dan masih banyak lagi. Selain itu batik produksi RM juga sering mengikuti pameran-pameran di dalam ataupun luar negeri. Di dalam negeri contohnya seperti dalam acara Gelar Batik Nasional, dan lain sebagainya.
Kesimpulan dari hasil kunjungan di Batik Tulis Garutan “RM” tentang segala hal yang berhubungan dengan proses pembuatan batik tulis, penulis dapat belajar dan mengetahui kegiatan apa saja yang terjadi di dalam proses pembuatan batik tulis. Untuk itu kita sebagai warga Negara Indonesia harus bisa ikut melestarikan budaya bangsa kita agar tidak direbut oleh Negara lain. Selain itu kita patut bangga atas prestasi yang dimiliki bangsa kita dengan keunikan keunikan dan ke-khas-san dari batik yang kita jumpai di setiap daerah. Karena setiap daerah memiliki motif dan keunikan tersendiri dalam pembuatan batiknya. Jangan sampai kita melupakan keaslian batik dengan hanya membeli batik-batik yang berasal dari luar yang tidak memperhatikan keaslian dan tujuan pembuatan batik. Tapi kita harus ikut berpartisispasi baik dalam melestarikan maupun membeli produk-produk asli dalam negri. Karena dengan itu hasil dari kebudayaan Bangsa kita akan tetap lestari sampai kapanpun.



Thanks to : Rumah Batik Garutan “RM”
                   Jl. Papandayan no.54 Telp (0262)231028
                   Fax. 232436 Garut- 44118

                   Jl. Pasir Salam Asri E1 Telp. (022)5223271

                   Fax.(022)5223271 Bandung

Minggu, 05 Januari 2014

Tertarik ke Taman Jomblo ??

Taman Jomblo Jadi Tempat Nongkrong Baru di Kota Bandung

Keasrian Bandung yang dijuluki Kota Kembang ini sudah menjadi rahasiah umum. Taman kota yang mudah kita temui menjadikan Kota Bandung terlihat lebih indah dan menarik untuk dikunjungi oleh warga Bandung ataupun dari luar Bandung. Pengunjung taman kota-pun bukan hanya kaum muda saja, melainkan dari semua kalangan dengan tujuan yang bervariatif., dari mulai melepas penat sambil menikmati pemandangan taman, tempat bermain, foto-foto, atau sekedar nongkrong disela-sela aktivitasnya.
Kali ini yang menjadi pusat perhatian warga Bandung khususnya adalah dengan diresmikannya Taman Pasupati atau Taman Jomblo (4/1/2014) oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil yang berlokasi di Jln. Tamansari, Kota Bandung, tepatnya di bawah jalan layang Pasupati.
Taman yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Jomblo ini cukup menarik perhatian masyarakat, khususnya kota Bandung. Dikarenakan keunikan dari namanya yang didedikasikan bagi para jombloan ataupun jombowati agar tidak merasa sendiri karena belum memiliki pasangan kekasih. Penataan tamanpun disesuaikan dengan nama taman itu sendiri, yakni kursi yang berada di Taman Jomblo berjumlah 60 berbentuk kubus dengan berbagai ukuran, akan tetapi pada dasarnya  hanya muat untuk diduduki satu orang saja.
Selain sebagai area untuk bersosialisasi dan berkomunikasi satu sama lain, taman ini juga memiliki fasilitas lain seperti wifi, dan juga arena skateboard berskala internasional. Ini ditujukan agar kretivitas para penggemar skateboard khususnya bisa lebih aktif di tempat yang telah disediakan. Jadi tidak lagi mempertarukan nyawanya dengan bermain skateboard di pinggir jalan.
Dengan dibangunnya Taman Jomblo diharapkan kaum muda khususnya lebih kreatif dan inovatif, menggunakan waktu luangnya untuk hal-hal positif dan bermanfaat. Tidak hanya sekedar nongkrong, tapi juga sebagai sarana bersosialisasi dan komunikasi dengan sesamanya. Sehingga tidak lagi ada kaum muda yang menyia-nyiakan masa mudanya dengan melakukan tindakan- tindakan anarkis ataupun kriminalisme.


Sabtu, 09 November 2013

IMK masa lalu-sekarang-masa depan

http://www.youtube.com/v/bxisdFA1vOA?version=3&autohide=1&feature=share&showinfo=1&attribution_tag=HPfA09oEyUnoD-zIP_5_wg&autoplay=1&autohide=1

Selasa, 05 November 2013

Etnopedagogi Suku Rimba Jambi

A.    Asal Usul Suku Anak Dalam Kubu
Penyebutan Orang Rimba pertama kali dengan berakhiran huruf ‘o’ pada disertasi tersebut dipertentangkan oleh beberapa antropolog meski tidak ada perbedaan makna, tetapi akhiran ‘o’ pada sebutan Orang Rimbo merupakan dialek Melayu Jambi dan Minang.
Tentang asal usul Suku Anak Dalam (Muchlas, 1975) menyebutkan adanya berbagai hikayat dari penuturan lisan yang dapat ditelusuri seperti Cerita Buah Gelumpang.
Dari hakikat tersebut Muchlas menarik kesimpulan bahwa Anak Dalam berasal dari tiga turunan yaitu:
1.      .Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari.
2.      Keturunan dari Minangkabau, umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari).
3.      Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko (Muchlas, 1975)
Menurut Van Dongen (1906) dalam Tempo (2002), menyebutkan bahwa orang rimba sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak beragama. mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan barter, mereka meletakkannya di pinggir hutan, kemudian orang melayu akan mengambil dan menukarnya.
Senada dengan Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002) (die orang kubu auf Sumatra) menyatakan orang rimba sebagai orang pra melayu yang merupakan penduduk asli Sumatera.
Demikian pula Paul Bescrta mengatakan bahwa orang rimba adalah proto melayu (melayu tua) yang ada di semenanjung Melayu yang terdesak oleh kedatangan melayu muda.

B.     Karakteristik dan Kultur Suku Kubu
Ciri-ciri fisik dan non fisik
Suku anak dalam termasuk golongan ras mongoloid yang termasuk dalam migrasi pertama dari manusia proto melayu. kulit sawo matang, rambut agak keriting, telapak kaki tebal, laki-laki dan perempuan yang dewasa banyak makan sirih.
Ciri fisik lain yang menonjol adalah penampilan gigi mereka yang tidak terawat dan berwarna kecoklatan. Hal ini terkait dengan kebiasaan mereka yang dari kecil nyaris tidak berhenti merokok serta rambut yang terlihat kusut karena jarang disisir dan hanya dibasahi saja.
Budaya Melangun
Pada masa sekarang apabila terjadi kematian di suatu daerah, juga tidak seluruh anggota Suku Anak Dalam tersebut yang pergi melangun. Hanya angota keluarga-keluarga mendiang saja yang melakukannya.
Seloko dan Mantera
Kehidupan Suku Anak Dalam sangat dipengaruhi oleh aturan-aturan hukum yang sudah diterapkan dalam bentuk seloko-seloko yang secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para pemimpin Suku, khususnya Tumenggung dalam membuat suatu keputusan. Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata dan bertingkah laku serta dalam kehidupan bermasyarakat Suku Anak Dalam. Bentuk seloko itu antara lain:
1.      Bak emas dengan suasa .
2.      Mengaji di atas surat
3.      Banyak daun tempat berteduh
4.      Titian galling tenggung negeri (Tidak ke sini juga tidak kesana/labil)





Besale
kata besale dapat diartikan secara harafiah duduk bersama untuk bersama-sama memohon kepada Yang Kuasa agar diberikan kesehatan, ketentraman dan dihindarkan dari mara bahaya.
Kepercayaan
Komunitas adat terpencil Suku Anak Dalam pada umumnya mempunyai kepercayaan terhadap dewa, istilah ethnic mereka yakni dewo dewo. Mereka mempercayai adanya dewa yang mendatangkan kebajikan jika mereka menjalankan aturannya.
Pengelolaan Sumberdaya Alam
Orang Rimba yang selama hidupnya dan segala aktifitas dilakukan di hutan. Hutan, yang bagi mereka merupakan harta yang tidak ternilai harganya, tempat mereka hidup, beranak-pinak, sumber pangan, sampai pada tempat dilakukannya adat istiadat yang berlaku bagi mereka.
Orang Rimba mengenal wilayah peruntukan seperti adanya Tanoh Peranokon, rimba, ladang, sesap, belukor dan benuaron. Peruntukan wilayah merupakan rotasi penggunaan sumber daya hutan dari rimba menjadi lading dan kemudian menjadi sesap.

C.    Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Rimba adalah matrilineal yang sama dengan system kekerabatan budaya Minangkabau.Orang Rimba tidak diperbolehkan memanggil istri atau suami dengan namanya, demikian pula antara adik dengan kakak dan antara anak dengan orang tua. Mereka juga tidak menyebut nama orang yang sudah meninggal dunia. Sebenarnya menyebut nama seseorang dianggap tabu oleh orang Rimba.
Kebudayaan orang Rimba juga mengenal sistem pelapisan sosial. Temenggung adalah pemimpin utama dalam struktur kelompok.

D.    Organisasi Sosial dan Kelompok Masyarakat pada Suku Kubu
Masyarakat Suku Anak Dalam hidup secara berkelompok, Mereka bebas untuk tinggal bersama dengan kelompok lain. Namun mereka tidak dengan mudah berganti-ganti kelompok/tumenggungnya karena terdapat hukum adat yang mengaturnya
 Susunan organisasi sosial pada masyarakat Suku Anak Dalam terdiri dari:
1.Tumenggung, Kepala adat/Kepala masyarakat
2.Wakil Tumenggung, Pengganti Tumenggung jika berhalangan
3.Menti, Menyidang orang secara adat/hakim

Kepemimpinan Anak Dalam tidak bersifat mutlak, mereka sekarang dipilih berdasarkan pengajuan Tumenggung disetujui seluruh anggota. Menurut Temenggung Tarib, jumlah kelompok yang diwakili oleh Temenggung naik dari 3 kelompok pada tahun 1980an.
E.     Kehidupan Masyarakat Suku Kubu
Makanan
Mereka sudah banyak yang menggunakan beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Sebenarnya makanan pokok mereka waktu dahulu adalah segala jenis umbi-umbian yang tumbuh di hutan, seperti keladi, ubi kayu, ubi jalar, umbi silung dan binatang buruan seperti babi hutan, rusa, kancil dan lain-lain.
Pakaian
Meraka pada umumnya tidak berpakaian, namun mereka menggunakan cawat kain untuk menutupi kemaluannya. Dahulu aslinya mereka menggunakan cawat dari kulit kayu terap atau serdang, namun karena cawat dari kulit kayu sering menimbulkan rasa sakit akibat kutu kayu yang masuk ke dalam kulit, sehingga mereka meninggalkannya dan beralih dengan kain yang mereka beli di pasar melalui masyarakat umum.
Tingkat kemampuan intelektual suku anak dalam dapat disebut masih rendah dan temperamen mereka pada umumnya keras dan pemalu. Walaupun masih terbatas, tetapi
sudah terjadi interaksi sosial dengan masyarakat sehingga keterbukaan terhadap nilai-nilai budaya luar semakin tampak.

F.     Peralatan, Komunikasi & Seni Suku Kubu
Sebagai orang yang memiliki harta benda minimal, termasuk barang seni dan alat teknologi .Kelihatannya menurut kosmologi orang Rimba, mereka tidak terdorong atau tergoda mempunyai harta benda. Ada kerajinan yang dibuat dari bambu, daun, rotan, rumput, kayu dan kulit. Seperti tikar untuk membungkus barang atau sebagai tempat tidur, dan wadah untuk tempat menyimpan, untuk membawa barang dan untuk melengkapi sistem adat, atau sebagai alat tukar-menukar dalam upacara perkawinan.
Pada umumnya, saat mereka pergi ke pasar mingguan atau keluar hutan untuk pergi ke dusun, laki-laki sering memakai celana dan perempuan menutupi badannya agar mereka tidak merasa malu, demi menghormati budaya dusun serta agar diterima dengan baik.

G.    Kesehatan masyarakat Rimba Jambi
Orang rimba atau sering disebut suku Anak Dalam atau suku Kubu semakin lama semakin sulit mengakses sumber daya hutan dan fasilitas kesehatan.
Dan lebih memprihatinkan lagi, keberadaan mereka seperti tak dianggap. Buktinya, sangat jarang kesehatan komunitas orang rimba menjadi perhatian. Padahal, tingkat kematian bayi dan ibu melahirkan sangat tinggi. Karena tinggal di dalam hutan, penyakit lain pun rentan dideritanya dan berpotensi menyebabkan kematian.
”Tingkat hidup orang rimba rendah, kematian bayi dan ibu melahirkan sangat tinggi,” kata Rudi Syaf, Program Manajer Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.
Data tentang tingginya kematian bayi dan ibu memang tidak ada karena petugas dari dinas kesehatan setempat jarang melakukan pengobatan dan pendataan. Namun, mencermati data populasi mereka enam tahun terakhir, nyaris tidak ada pertambahan populasi yang berarti.
Penyakit yang sering diderita orang rimba umumnya adalah TB paru, infeksi saluran pernapasan, infeksi kulit, infeksi saluran pencernaan, cacingan, malaria, dan sakit gigi. Keluhan utama mereka adalah sakit gigi (pulot), sakit perut (bocor), demam (domom), dan batuk (betuk).
Salah satu sebab tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan karena untuk melahirkan lokoter tak bisa melakukan intervensi.
Menurut mereka, Proses kelahiran masih dilakukan secara tradisional melalui dukun beranak di komunitas orang rimba itu sendiri. Proses kelahiran bagi orang rimba, menurut kepercayaannya, dianggap sebagai kesempatan mereka didatangi dewa. Karena itu, tak boleh ada orang lain di luar komunitas orang rimba ketika prosesi kelahiran terjadi.
Adapun untuk mengobati penyakit orang rimba yang dilakukan KKI Warsi masih ada pembatasan-pembatasan yang tak boleh dilanggar. Misalnya, tenaga medis (lokoter) laki-laki tidak boleh mengobati dan menyentuh perempuan orang rimba. Tabu bagi perempuan orang rimba diobati oleh lokoter laki-laki. Sebaliknya, laki-laki orang rimba tidak tabu diobati lokoter perempuan.
Menurut Sukmareni, di tengah pola hidup dan konsumsi orang rimba yang kurang baik serta pengobatan yang masih tradisional, ada kalanya penyakit sulit hilang dari orang rimba. Mungkin ini juga yang menyebabkan populasi orang rimba cenderung stabil dari waktu ke waktu. Untuk ini tentu dibutuhkan pengobatan yang lebih memadai untuk kasus-kasus tertentu yang tidak bisa ditangani di rimba, seperti TB paru dan penyakit kronis lainnya.

H.    Pengobatan
Sementara itu, pengobatan tradisional mereka melalui tanaman obat juga semakin susah karena bahan baku sulit didapat.
Keharusan dan kemampuan menguasai tradisi lisan juga menjadi syarat wajib bagi dukun yang ditentukan oleh komunitas. Hal ini dikarenakan pada tradisi pengobatan Orang Rimba, pembacaan mantera biasanya menyertai proses pembuatan bahan-bahan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Pada makalah ini dituliskan mantera pengobatan penyakit asma yang dibacakan pada saat meramu dan merebus sejenis akar-akaran untuk diminum penderita asma.
Pembacaan mantra untuk pengobatan dapat dilakukan secara langsung yaitu dibacakan pada saat pengobatan atau secara tidak langsung melalui upacara bebale. Ketentuan pembacaan mantera pengobatan ini menunjukkan adanya mantra yang boleh diketahui oleh orang lain dan mantra yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Pada dasarnya pengobatan yang dilakukan adalah untuk melindungi diri dari serangan hewan buas ataupun untuk tujuan tertentu.


I.       Wilayah Persebaran Suku Kubu
Daerah yang didiami oleh Suku Anak Dalam ada di kawasan Taman Nasional Bukit XII antara lain terdapat di daerah Sungai Sorenggom, Sungai Terap dan Sungai Kejasung Besar/Kecil, Sungai Makekal dan Sungai Sukalado. Nama-nama daerah tempat mereka bermukim mengacu pada anak-anak sungai yang ada di dekat permukiman mereka.
Cagar Biosfer, adalah karena kawasan ini memenuhi ciri-ciri atau kriteria yang sifatnya kualitatif yang mengacu pada kriteria umum Man and Biosphere Reserve Program, UNESCO seperti berikut:
1.      Merupakan kawasan yang mempunyai keperwakilan ekosistem yang masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi, modifikasi dan atau binaan.
2.      Mempunyai komunitas alam yang unik, langka dan indah.
3.      .Merupakan landscape atau bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis.
4.Merupakan tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan (Dirjen PHPA, 1993)..
Kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terletak diantara lima kabupaten, yaitu kabupaten sarolangun, merangin, bungo, tebo dan batang hari. Kawasan yang di diami orang rimba ini secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh batang tabir di sebelah barat, batang tembesi.di kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terdapat tiga kelompok Orang Rimba yaitu kelompok Air Hitam di bagian selatan kawasan. Orang Rimba hidup dalam kelompok kelompok kecil yang selalu menempati wilayah bantaran sungai baik di badan sungai besar ataupun di anak sungai dari hilir sampai ke hulu.
Walaupun mereka jarang menggunakan sungai sebagai tempat membersihkan dirinya, tetapi keberadaan sungai sebagai sarana kehidupan mereka terutama untuk kebutuhan air minum, sehingga pemukiman mereka selalu diarahkan tidak jauh dari anak anak sungai.
Wilayah Taman Nasional Bukit XII memiliki beberapa tempat tinggal lain di kaki bukitnya, dengan Bukit Dua Belas sebagai titik sentralnya. Dinamakan Bukit Dua Belas karena menurut Suku Anak Dalam, bukit ini memliki 12 undakan untuk sampai dipuncaknya. Di tempat inilah menurut mereka banyak terdapat roh nenek moyang mereka, dewa-dewa dan hantu-hantu yang bisa memberikan kekuatan.













DAFTAR PUSTAKA
Delvinet. (2009). “Makalah Suku Anak Dalam Jambi” [online]
Yurnaldi. (2009). “Kesehatan Orang Rimba Terancam” [online]